Show Must Go On – Soni Marti Lova

IMG20170914160922.jpg

Judul buku: Show Must Go On: Norak-Norak Bergembira di Balik Layar Kaca

Penulis: Soni Marti Lova

Penerbit: Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-0622-2

Terbit: Juli 2011

Tebal: 408 halaman

Rating: 3.5/5


Blurb

Mbak Mala selaku Senior Creative gue dari panggung kasih komando, “Son, tolong panggilin Della Puspita, ya.”

Walaupun gue nggak tahu seperti apa wajahnya Della Puspita, dengan percaya diri gue jawab, “Oke Mbak.”

Setelah itu, gue langsung masuk ke ruang artis. Dengan wajah bingung, gue celingak-celinguk lihat kiri-kanan, berharap ada clue atau tanda apalah buat memudahkan gue nyari Della Puspita yang mana. Soalnya, di rundown ada dua nama yang mirip, Della Puspita sama Della Citra. Lalu, di depan gue ada make up artis yang lagi dandanin salah satu artis ngomong, “Mbak Della, rambutnya dirapiin nanti aja ya kalau sudah kelar rehearse.” Artis yang dia panggil “Mbak Della” itu hanya manggut.

Tanpa pikir panjang gue langsung bilang sama mbak tersebut dengan suara lantang, “Mbak Della Puspita, sekarang kita latihan, yuk.” Sontak, mbak yang gue panggil langsung melihat gue dengan wajah bingung. Gue negasin lagi, “Iya Mbak, udah disuruh rehearse.”

Tiba-tiba, di samping gue berdiri seorang artis cantik dan bilang sama gue, “Mas, saya Della Puspita. Saya yang duluan ya buat rehearse.”


Review

Blurb di atas adalah salah satu kekonyolan yang terjadi di balik layar kaca di kala Soni Marti Lova masih menjadi seorang Creative di salah satu stasiun TV swasta yang kini namanya sudah berkibar ke seluruh penjuru Indonesia.

Soni membawakan kisah suka duka perjuangannya dari sebelum ia menjadi seorang creative sampai ia harus memutuskan resign dan pergi menetap mendampingi istri dan keluarganya di Korea Selatan. Pengalaman-pengalaman yang ia rasakan selama menjadi creative, ia tuangkan komplit dengan bumbu kocak, norak, sampai kisah mengharu-biru juga ada di buku ini.

Hidup memang tak lepas dari drama. Sebagai seorang creative pun Soni harus melewati banyak drama demi terciptanya acara yang berkualitas dan mendapatkan tempat di hati para pemirsa. Ada program yang didrop, perseteruan dengan beberapa artis, dapet “surat cinta” dari KPI, susahnya mencari bintang tamu; seperti ketika saat Soni harus mencari Mak Erot ke Sukabumi dan ketika berusaha mengundang Ibu Berkawat dari Sangatta, Kalimantan Timur. Bagi saya yang hanya seorang buruh pabrik, saya terkagum dengan tugas para creative yang dituntut harus selalu punya ide dan inovasi agar program televisi yang diusung bisa tetap berumur panjang. Amazing!

Buku ini membawa saya terkenang akan beberapa acara favorit di masa itu. Masa ketika Extravaganza adalah tontonan wajib saya, masa adanya program Cilapop yang bikin hari saya diwarnai lagu Jadikan Aku yang Kedua-nya Astrid, masa awal-awal lahirnya acara lawak terheboh sepanjang abad; Opera Van Java, masa Bunda Dorce masih sering muncul di TV dengan acaranya Dorce Show, dan masa dimana Bukan Empat Mata masih bernama Empat Mata. And you know what guys? Penulis adalah orang yang sangat berjasa dibalik semua program kece tersebut. *big applause*

Buku ini sangat cocok untuk dijadikan “kitab” bagi temen-temen yang sedang/akan memasuki dunia broadcasting. Di akhir buku penulis juga menyisipkan glossary dan lampiran-lampiran seperti script dan rundown acara yang pastinya membantu sekali, khususnya untuk orang awam seperti saya, yang jadi tahu istilah-istilah di dunia pertelevisian.

Habis baca buku ini, saya juga jadi berpikiran sama dengan penulis. Tanpa creative apalah jadinya artis-artis terkenal di layar kaca itu. Abadilah jasa para creative yang telah membantu kesuksesan para artis. Jasamu abadi!

Kiranya, sekian dulu review kali ini.

Semoga bermanfaat.

Cheers,

Yossi Fitriani, yang sedang malas makan ke kantin pabrik.

Advertisements