Novel Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

IMG20180108171444-01

Judul buku: Rumah Kertas

Penulis: Carlos María Domínguez

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

ISBN: 978-979-1260-62-6

Terbit: 2016 (Terbit Pertama Kali 2012)

Tebal: 76 halaman

Rating: 4/5


Blurb

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!


Review

Buku ini menjadi incaran saya sejak lama.

Saya kebingungan untuk mulai dari mana membahasnya. Rumah Kertas jadi novel paling tipis yang pernah saya baca tapi cukup menghabiskan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Mungkin karena ini adalah novel terjemahan dan mengambil latar di Argentina dan membawakan bagaimana perkembangan sastra di Amerika Latin sana, dan banyak karya sastra asing yang disebutkan di buku yang saya sungguh tidak pernah tahu. Sangat mungkin juga karena di buku yang tebalnya tidak sampai 100 halaman ini banyak sindiran-sindiran yang membuat pembaca tertohok dan mikir, terlebih bagi orang yang mengaku seorang pecinta buku.

Buku ini membawa kisah tentang pecinta buku yang sudah sampai pada tahap gila. Buku seakan menjadi barang suci yang perlu perlakuan khusus dan menjadi dilema ketika si mpunya buku sudah terlalu banyak punya buku namun sedikit tempat tersisa untuk menyimpannya dan sedikit pula waktu yang dimiliki untuk membacanya. Kiranya, buku ini bisa jadi bacaan wajib bagi mentemens yang senang membaca buku dan bersiaplah untuk dihantuinya jauh sesudah buku ini ditutup.

“Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.”- Hlm. 32.

 

“Hubungan yang dijalin manusia dengan benda awet yang sanggup bertahan satu, dua, bahkan dua puluh abad ini, dan demikian mengalahkan bulir-bulir pasir waktu, tak pernah berlangsung lugu. Panggilan hidup manusia menjadi terikat pada bubur kayu lunak yang tak terhancurkan ini.”-Hlm. 58.

Advertisements