Pengalaman Membuat Surat Keterangan Sehat (SKS) Jasmani dan Rohani di RSUD Al Ihsan

Minggu lalu adalah kali kesekian saya menjalani tes kesehatan jasmani dan kali pertama bagi saya untuk menjalani tes kesehatan rohani atau kejiwaan karena baru kali ini bukan hanya surat keterangan sehat jasmani yang menjadi syarat untuk melamar pekerjaan di tempat saya melamar, tapi juga dipersyaratkan surat keterangan sehat rohani atau jiwa. Lumayan deg-degan karena saya termasuk orang yang sebisa mungkin engga ke dokter kalo sakit dan agak parno kalo ketemu dokter, entah kenapa. Huhuu

Jadi, sebelum memutuskan untuk tes kesehatan di RSUD Al Ihsan, saya juga browsing dan cari tahu dulu persyaratan dan biaya yang dibutuhkan. Alhamdulillah, apa yang dipersiapkan engga terlalu meleset, terutama untuk biaya tes kesehatannya. Jadi, apa aja yang mesti disiapin sebelum ke Rumah Sakit? Kurang lebih begini:

  1. Siapin mental (Ini penting sih, apalagi kalo baru pertama kali)
  2. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  3. Uang tunai (Waktu itu saya bawa Rp. 350.000)
  4. Alat Tulis

Berangkatlah saya ke RSUD Al Ihsan pada Jum’at 05 Oktober 2018. Saya tiba dengan bingung karena engga tahu harus ke gedung yang mana, terjebak di tempat pendaftaran pasien BPJS yang padet luar biasa dan daripada saya malu bertanya sesat di rumah sakit, akhirnya saya nanya ke satpam dimana tempat untuk membuat surat keterangan sehat. Alhamdulillah, satpam baik hati nganterin saya nunjukin gedungnya yang ternyata terpisah dari gedung tempat pendaftaran pasien BPJS yang waktu itu engga kebayang bakal selesai jam berapa kalo antriannya sama di situ, karena subhanalloh antriannya bener-bener udah ampe batas pintu masuk ruang pendaftaran dan depan pintu pun banyak sekali orang.

Sampailah saya di Gedung A, tempat dimana dilaksanakannya Medical Check Up (MCU), kemudian saya langsung mengambil antrian dan ternyata udah antrian ke 45 aja.

IMG20181005074024
abaikan tanggal dan jam yang ngaco.

Pas duduk di ruang tunggu, antrian yang dipanggil baru sampai antrian 8, 9, dan 10. Engga lama antri, soalnya entah kenapa banyak yang engga hadir pas dipanggil dan antrian berlangsung cepat tanpa harus menunggu lama. Alhamdulillah sih yaa hehee…

Waktu nomor antrian saya dipanggil, saya ke loket pendaftaran. Di loket pendaftaran, saya diminta menunjukan KTP lalu menyebutkan keperluannya apa. Setelah itu saya ke kasir untuk pembayaran dan mendapatkan bukti pembayaran yang mana nantinya perlu kita tunjukan saat akan masuk ke poliklinik.

img_20181005_0001-p1-1
lumayan menguras dompet sih ini :’)

Dari loket pendaftaran saya langsung ke lantai 2, disana saya ke sebuah loket, kaya pendaftaran lagi, lalu nanti dikasih map dan kartu semacam kartu pasien gitu. Terus langsung deh ke Poliklinik MCU untuk tes kesehatan jasmani.

Seperti tes kesehatan jasmani biasanya, di Poliklinik MCU saya diperiksa tensi darah, berat badan, tinggi badan lalu setelah itu konsultasi dengan dokter, ditanya ada keluhan apa, lalu diperiksa dokter. Alhamdulillah, lancar dan cepet sih prosesnya. Abis itu, keluar deh tuh Surat Keterangan Sehat yang menerangkan kondisi kesehatan kita saat itu.

Selesai dari Poliklinik MCU, saya harus menunggu beberapa menit untuk selanjutnya ke Poliklinik Psikologi karena polikliniknya ada di lantai 4 gedung lain dan harus diantar petugas rumah sakit.

Beberapa menit menunggu, saya kemudian diantar seorang petugas menuju Poliklinik Psikologi/Kejiwaan. Ternyata, di sini saya berbarengan dengan pasien lain termasuk pasien BPJS dan ikut mengantri. Sambil mengantri, saya diberi lembaran soal MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) oleh seorang perawat dan meminta saya untuk baca-baca terlebih dahulu dan uwoooowwwwww jumlah soalnya nyampe 500++ cyiiiiiiinnnnnnnn. Suasana ruang tunggu agak ricuh dan beberapa pasien tidak sabar berulang kali membuka pintu ruangan dokter menanyakan sudah antrian ke berapa. Padahal, wajar kalo lama karena dokter di sini kan engga cuma periksa gitu aja. Dari beberapa yang saya lihat setelah masuk ruangan dan duduk di kursi antrian yang ada di dalam ruangan, dokter spesialis kejiwaan ini juga memberikan konseling, semacam ngobrol dengan pasien gitu soal keluhannya dan gimana solusi atas keluhannya yang emang engga menghabiskan waktu yang sedikit.

Tiba giliran saya, saya duduk berhadapan dengan dokter dan mulai semacam sesi tanya jawab. Di situ banyak ditanya mulai dari perkenalan sampai soal gimana kita kalo menghadapi persoalan dan sikap kita kalo lagi dalam keadaan A, B, C. Terus dikasih gambar gitu, ditanya soal jarak jauh dekatnya bangunan, perbandingan lebar dan panjang bangunan sampai volume sebuah bangunan dari titik pandangan kita dengan mata telanjang semacam mengira-ngira gitu. Ditanya juga soal arah mata angin dan ada pertanyaan-pertanyaan lain juga soal ini, semacam soal cerita gitu dan banyak lagi pertanyaan lainnya mengenai diri kita dan pekerjaan yang akan kita kerjakan nanti jika diterima dan persiapan apa aja yang sudah kita lakukan. Sesi yang lumayan deg-degan sih. Semacam interview kerja. Wkwkwk…

Beres sesi tanya jawab, soal MMPI yang ada di tangan saya diminta dokter untuk dikembalikan. Katanya udah cukup dan engga perlu ngerjain soal. Wkwkwk. Saya sih seneng-seneng aja karena engga perlu ngerjain 500 lebih soal itu dan bisa kembali ke tempat kerja tanpa perlu ijin lama-lama. Akhirnya kurang lebih jam 09.30 WIB, Surat Keterangan Sehat Jiwa saya keluar dan saya pun beranjak pulang, eh bukan pulang tapi berangkat kerja. Keitung cepet sih yaa tiba di rumah sakit dari jam 07.30 WIB dan selesai kurang lebih jam 09.30 WIB. Ga tau deh kalo mesti ngerjain soal MMPI bakal selesai jam berapa. Hahahaaa…

Sekian dulu cerita pengalaman saya kali ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya yaa…

Assalamualaikum 🙂

Advertisements

China Town Bandung, Klasik tapi Asyik!

Tahun ini Kota Bandung punya tempat wisata baru lagiiiiiiiiiiiii. Kota Bandung kini punya China Town, sebuah tempat wisata yang menjadi salah satu tempat yang mengundang perhatian banyak orang khususnya para pemburu spot foto cantik dan unik yang tentunya pasti instagramable banget.

IMG20170921141956

Berkunjung ke China Town membawa saya merasa seperti sedang berada di Negeri Tirai Bambu, lengkap dengan nuansa serba oriental dan klasik. China Town ini letaknya ada di kawasan Pecinan Kota Bandung dekat dengan Klenteng Satya Budhi, tepatnya ada di Jl. Kelenteng No.41, Ciroyom, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40182.

IMG20170921145852

Selain punya banyak spot foto yang cantik dan unik sebagai tempat wisata selfie, China Town juga menyuguhkan wisata kuliner dengan berbagai macam menu makanan, mulai dari yang oriental sampai yang khas nusantara banget. Di dalamnya ada juga beberapa penjual aksesories dan pernak-pernik unik khas Tiongkok yang bisa dibawa pulang sebagai pilihan untuk oleh-oleh. Ah, satu lagi yang unik, temen-temen juga bisa berfoto dengan memakai pakaian khas Negeri Tirai Bambu komplit dengan riasannya. Jadi, buat saya China Town ini adalah tempat wisata yang cukup komplit fasilitasnya, bisa nongkrong, foto-foto, makan-makan juga sekaligus jajan oleh-oleh. Oia, disana juga disediakan mushola dan insyaallah terjamin halal makanannya karena semua tempat makan disana bertuliskan “No Pork”.

IMG20170921145542

Saya cukup puas dengan mengambil banyak foto disana. Banyak mural-mural kece, hiasan lampion, lukisan-lukisan khas China, pajangan barang-barang antik, dan ada juga info grafis tentang sejarah kedatangan orang Tionghoa jaman dulu ke Kota Bandung. Tempatnya gampang buat dijelajah sampai sudut-sudutnya. Anak-anak, muda-mudi sampai dewasa yang mau main ke China Town atau mau bawa keluarga, cocok! Bisa banget!

IMG20170921142245

Dengan tiket masuk Rp. 20.000 (sudah plus dikasih kue imut-imut), jalan-jalan ke China Town berhasil membawa saya mengenang hal-hal klasik tapi tetep asyik!

IMG20170921141338IMG20170921145754IMG20170921145615IMG20170921145037

PS:

Maafkan saya yang terlalu narsis kebanyakan foto, kapan lagi soalnya mumpung lagi ada yang mau motoin, wkwkwk

Photos taken by: Arief Ramadhan | Taken with: Oppo F3