[Kutipan] The Architecture of Love – Ika Natassa

img20161004172704

“A girl can never go wrong with a little black dress.” – Hlm. 10

“Dia menulis karena dia cinta meulis dan dia menulis kisah karena ada yang ingin dia ceritakan, bukan karena ingin mencari popularitas atau award atau mengejar pujian.” – Hlm. 11

“Tersenyum pahit sendiri saat dia menyadari hidup itu untuk dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan.” – Hlm. 13

“Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do.” – Hlm. 15

“Salah satu kutukan penulis: terkadang memberi makna berlebihan pada kalimat yang seharusnya berarti sederhana, apa adanya.” – Hlm. 47

“Kita memang tidak pernah bisa memastikan kapan kita bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan.” – Hlm. 60

“Tapi Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dan memisahkan, menjauhkan dan mendekatkan, yang tidak pernah bisa kita duga-duga.” – Hlm. 65

“People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory” – Hlm. 66

“Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow.” – Hlm. 85

“… memaki tidak akan bisa membuat kita melupakan orang yang pernah-dan mungkin-masih kita cintai.” – Hlm. 108

“Tapi banyak hal yang memang lebih gampang kita sarankan ke orang lain daripada kita lakukan sendiri, kan, Riv?” – Hlm. 170

“Mungkin ini satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya.” – Hlm. 171

“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir.” – Hlm. 270

“There’s always something undeniably romantic about bookstores.” – Hlm. 272

“… diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang.” – Hlm. 288

Advertisements

Sejumlah Cerita: Linguae – Seno Gumira Ajidarma

IMG20180814102924-01

Judul buku: Linguae

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Desain Sampul: Sofnir Ali

Foto Sampul: Koleksi Pusat Dokumentasi Foto Jakarta-Jakarta

Setting: Ryan Pradana

Penerbit: P. T. Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2771-7

ISBN13: 978-979-22-2771-0

Terbit: Maret 2007

Tebal: 130 halaman

Rating: 3.5/5


“Mungkinkah aku membayangkan diriku sendiri untuk sebuah adegan yang tidak pernah ada?” Hlm. 52.

Jawaban saya adalah, mungkin!

Lewat Cermin Maneka, saya terbawa pada dunia di dalam sebuah cermin serupa dunia Narnia.

Lewat Cintaku Jauh di Komodo, saya membayangkan, apa jadinya jika kekasih kita berubah menjadi seekor komodo?

“Jika cinta memang mempersatukan jiwa, maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya?” Hlm. 14.

Lewat Rembulan Dalam Cappuccino, saya dipertemukan dengan pasangan suami istri yang sudah bercerai dan berebut sebuah rembulan yang terdapat dalam secangkir kopi. Dan benar-benar rembulan beneran. Karena sejak bulan itu disajikan dan dibeli dari sebuah cafe, malam jadi kehilangan cahayanya.

Tiada rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya, siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?

“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri.

“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi. Hlm 23.

Lewat Tong Setan, saya seakan dibawa kembali pada masa kecil dimana setiap ada Pasar Malam disitulah ada Tong Setan. Hebatnya, cerpen ini hanya butuh satu sampai dua kalimat dalam satu paragraf yang panjaaaaaang. Bapak SGA hebat sekali merangkai katanyaaaaaa…

Lewat Badak Kencana, saya dibawa ke Ujung Kulon menikmati kisah serupa mitos bahwa disana ada badak berkaki satu, yang akan melindungi populasi badak dari perburuan cula. Cerita ini seperti sekaligus mengingatkan kita akan populasi badak yang kian langka.

Lewat Linguae, saya dibawa pada kisah cinta yang absurd dimana cinta diuji lewat kepekaan lidah. Lalu, bagaimana jika lidah kita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ada?

“Cinta mungkin tidak perlu kata-kata tetapi aku tidak tahu bagaimana nasib cinta jika para pecinta kehilangan lidahnya?” Hlm. 59.

Lewat Joko Swiwi, saya dipertemukan dengan sesosok manusia yang lahir dari seorang Ibu yang pernah bekerja di luar negeri, tanpa kejelasan siapa bapak kandungnya dannnnnnn ia terlahir sebagai manusia serupa unggas karena mempunyai sepasang sayap. Agak aneh tapi lucu dan penuh pesan moral.

Lewat Simsalabim, saya mengbayangkan apa jadinya jika pesulap dianggap sebagai Tuhan oleh orang-orang yang putus asa pada nasibnya. Bukankah Tuhan sesungguhnya pun berfirman, Ia tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang mengubahnya?

Itulah beberapa cerpen yang saya suka dari 14 cerpen yang ada di Linguae. SGA berhasil membawa saya pada imajinasi yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan bisa dibilang, gila! Hahaa. Selain lucu dan manis, beberapa cerpen juga membawa pesan sosial yang gampang-gampang susah buat ditangkap yang disajikan dalam cerita yang absurd.

Tidak sabar untuk membaca buku SGA lainnya!!!


Ps:

Buku ini saya dapatkan dari seseorang di Medan sana. Terima kasih sudah berbagi buku dan menambah bahan koleksi kosakata saya. God bless you.

Novel Entrok – Okky Madasari

IMG20180628212906-01

Judul buku: Entrok

Penulis: Okky Madasari

Ilustrasi dan Desain Sampul: Restu Ratnaningtyas

Penerbit: P. T. Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-5589-8

Terbit: April 2010

Tebal: 288 halaman

Rating: 4/5


Entrok berarti BH alias Bra.

Bagi Marni, mempunyai entrok adalah sebuah mimpi yang perlu perjuangan keras dan kesungguhan. Di kala ia muda, entrok adalah barang mewah yang tak semua orang bisa memilikinya. Marni hidup dalam kemiskinan tapi ia tak pernah miskin semangat. Demi entrok, ia rela bekerja lebih keras, bahkan ketika satu-satunya pekerjaan yang bisa dibayar dengan uang saat itu adalah menjadi kuli, Marni benar-benar rela. Marni adalah seorang yang memuja leluhur, ia percaya bahwa doa dan syukur adalah semata untuk Gusti Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa.

Rahayu. Ia adalah anak Marni. Lahir di saat zaman sudah berubah dan sudah mulai mengenal sekolah. Rahayu hidup berkecukupan. Kerja keras Marni dari bakulan, termasuk ‘bakul duit’ telah membuahkan hasil hingga Marni bisa mempunyai sawah, kebun tebu, mobil hingga bisa menyekolahkan Rahayu sampai kuliah. Di sekolah, Rahayu belajar agama yang mengajarkannya bahwa Gusti Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah hingga kemudian perbedaan keyakinan dengan ibunya membuat mereka menjadi asing dan menganggap apa yang dilakukan ibunya adalah dosa besar.

Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal? – Hlm. 124

Ealah… Nduk, sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia. – Hlm. 125

Marni dan Rahayu hidup terpisah selama bertahun-tahun. Terlalu banyak perbedaan yang membuat jarak mereka semakin jauh. Satu yang sama diantara keduanya, mereka sama-sama menjadi korban orang-orang punya kuasa. RT, lurah hingga aparat negara berbaju loreng memainkan kuasa seenaknya dan menjadikan Marni dan Rahayu kehilangan materi hingga kebebasan.

Ini adalah novel sejarah yang menyenangkan. Berbagai peristiwa yang terjadi sejak tahun 1950 sampai 1994 membawa saya pada perjalanan hidup Marni dan Rahayu yang diwarnai dengan kesewenang-wenangan penguasa, ketidakadilan, hak asasi manusia, kesetaraan, pentingnya toleransi, kekerasan dan PKI. Jika saja novel ini terbit sebelum orde baru, novel ini mungkin akan ‘diharamkan’ untuk hadir dan bisa dinikmati pembaca.

Tiap bab cerita dibawakan bergantian dari sudut pandang Rahayu dan Marni. Penulisan cerita yang disampaikan Mbak Okky berhasil membuat saya yang tidak suka sejarah jadi ingin lebih tahu sejarah negeri ini. Ini adalah salah satu cara efektif belajar sejarah yang tidak membosankan dan bahkan berhasil beberapa kali membuat saya tercengang.

Pemakaian bahasa yang campur dengan bahasa Jawa, karena berlatar di Jawa Timur dan Jawa Tengah tidak membuat keasyikan membaca novel ini berkurang. Sebuah novel yang dibawakan dengan santai tapi membuat pembaca tidak sabar ingin tahu akan apa yang terjadi selanjutnya.

Ini novel Mbak Okky pertama yang saya baca dan berhasil membawa keinginan untuk ingin membaca karya Mbak Okky lainnya.

Changing Impossible to I’mpossible – Victor Setiawan Taslim

IMG20171225153644

Judul buku: Changing Impossible to I’mpossible

Penulis: Victor Setiawan Taslim

Bahasa: Inggris

Ilustrasi Isi: Inez Tiara

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-6953-6

Terbit: Juni 2011

Tebal: 156 halaman

Rating: 3/5


Buku ini adalah buku berbahasa Inggris satu-satunya yang saya baca di tahun kemarin. Alasan buku ini dibeli juga tadinya buat belajar reading dan karena emang DISKON (IDR 25K dapet 3 buku. Jelas engga nolaklah! Wkwk) #akucintadiskonan sebab #diskonadalahkoentji. Uhuy!

Jadi buku ini tentang apa sih?

Dari judulnya mungkin udah ketebak kalo ini adalah semacam buku motivasi. Yap. Betul sekali! Buku ini ditulis oleh seorang yang sebaya usianya dengan saya dan ditulis ketika ia masih berusia 18 tahun. Well, usia 18 kayanya saya belum menghasilkan apa-apa yang berarti dalam hidup, pun sampai hari ini. Huft.

Buku ini berisi pengalaman penulis ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa (ASEAN Scholarship) demi melanjutkan SMA-nya di Singapura. Saya salut karena di usia remajanya penulis sangat apik dalam melakukan manajemen waktu dan membuat strategi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Ia tak hanya berprestasi di sekolah tapi juga berprestasi sebagai atlet. Dan kini kabarnya, dari hasil saya googling-googling, penulis kece ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas di Inggris. *Huoooo calon cowok idaman syekaliiiiii…* *minta disleding* *fokus oyy!*

Jalan yang ditempuh penulis tentu tidak selalu mudah dan tidak selalu mulus. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi, bahkan penulis juga sempat gagal sebelum akhirnya berhasil mendapat apa yang ia inginkan. Ia menanamkan pada dirinya agar selalu berpikir positif dalam menghadapi apapun yang sedang terjadi. Sedih boleh, marah boleh, kecewa boleh, asal tidak berlebihan dan tetap punya kekuatan untuk bangkit. Victor telah mendapatkan buah dari kebiasaan berpikir positif yang ia tanam. Ia adalah remaja sukses yang sangat layak dijadikan panutan.

Selain menanamkan untuk selalu berpikir positif, di sini penulis juga membagikan kiat-kiat lainnya dalam menggapai mimpi, seperti judul dari buku ini, penulis membagikan bagaimana caranya mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Penulis juga bercerita tentang bagaimana kedua orangtuanya mendidik dan membimbing penulis dengan sangat bijak dan penuh kasih sayang. Banyak kisah kehidupan penulis dan orang tuanya yang kaya akan nasehat baik sehingga membuat buku ini tak hanya cocok untuk remaja tapi juga sangat cocok untuk dibaca orangtua sebagai panduan untuk parenting.

Jujur, buku ini engga saya banget. Baca buku ini, saya ngerasa kebiasaan penulis dan saya amatlah jomplang. Tapi alhamdulillah ada pelajaran yang bisa saya petik dan saya bagi, dan yang paling penting lagi, alhamdulillah tamat juga bacanya.

Salah satu hikmah dan pelajaran penting yang saya dapet adalah: Saya jadi tau kalo reading skill saya sangat payah. Ambyarrrrrr sekaliiiiiiiiiii. Capek bolak balik buka kamus. Tapi alhamdulillah bisa nambah vocab. Hihii.

Eiya, di buku ini juga ada tips buat reading yang sangat bisa diaplikasikan. Nice!

Untuk para remaja SMP-SMA yang mungkin sedang galau di luar sana, kiranya buku ini bisa membantu membuka pikiran dan membuka jalan untuk masa depan yang lebih bahagia. Inget, jalannya baru kebuka kalo bukunya di baca ya! Inget juga, buku itu emang jendela dunia, tapi kalo jendelanya engga dibuka, ya ga bisa liat dunianya kaya gimana. Jadi, bacalah!

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Yossi Fitriani, yang sedang mengkhayalkan masa depan.

 

Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah

wp_20161020_21_13_52_pro

Judul buku: Detik Terakhir

Judul lama: Jangan Beri Aku Narkoba

Penulis: Alberthiene Endah

Editor: Ikeu dan Donna

Desain sampul: eMTe

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2214-6

Terbit: April 2004

Tebal: 248 halaman

Penghargaan: Penghargaan Adikarya IKAPI (2007)

Rating: 4/5


Blurb & Sinopsis

“Narkoba telah menghancurkanmu….”

“Bukan. Bukan dia. Dia Cuma bubuk putih yang tahu bagaimana untuk bersiasat memberi penyelamatan dalam dunia yang begini kurang ajar.”

“Kamu menjadi rusak. Kamu menjadi celaka. Kamu menjadi lesbian. Semua karena narkoba.”

“Saya korban orang tua yang rusak. Saya korban akhlak mereka yang celaka. Tapi saya menjadi lesbian karena cinta itu memang ada. Hanya itu yang saya punya.”

“Kamu kalap. Kamu harus masuk panti.”

“Kenapa kalian hanya memikirkan saya dan narkoba? Kenapa kalian tidak pernah berpikir untuk membuat panti bagi orang-orang yang membuat saya celaka. Orang tua.”

Arimbi korban yang tak terelakkan dari kehidupan rumah tangga kaum jetset yang bobrok. Seperti kebanyakan remaja frustasi, ia dengan mudah mengenal narkoba dan dalam waktu singkat bersetubuh dengan bubuk melenakan itu. Kisah ini bercerita tentang proses psikologis seorang gadis muda melawan (atau melindungi dirinya dari) kehidupan yang sangat dia benci. Bagaimana ia berjuang mendapatkan kemenangan yang ia yakini dengan mencintai sesama perempuan. Bagaimana ia bergulat dalam proses pengenalan dirinya di tengah situasi yang bagi orang kebanyakan adalah proses tak sadar karena dipengaruhi narkoba.

Tapi Arimbi bukan korban klise dari jerat narkoba yang bisa diselesaikan dengan tindakan instan masa kini: detoksifikasi dan panti rehabilitasi. Ia, dengan sisa-sisa kesadaran dan rasa cintanya yang besar pada kekasihnya, Vela, berusaha melepaskan diri dari kehidupan yang ia benci sekaligus narkoba dengan suara hati yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Ironisnya, apa yang ia perjuangkan dipandang orang lain sebagai salah satu dampak buruk narkoba.

Kisah Arimbi merupakan gambaran kegagalan orangtua masa kini (dan institusi pemberantasan narkoba) dalam menyelesaikan kasus-kasus narkoba. Ada begitu banyak mantan pecandu yang masih bergulat dengan persoalan-persoalan yang belum selesai.

Review

Novel ini pertama kali terbit 12 tahun yang lalu dengan judul “Jangan Beri Aku Narkoba”. Kemudian terbit lagi dengan judul yang berganti menjadi “Detik Terakhir” di tahun 2006. 10 tahun kemudian saya baru berkesempatan membaca buku ini. Lagi pula di tahun 2004 atau 2006 saya belum cukup umur untuk membaca novel ini. He he hehe.

Saya temukan buku ini ketika berburu buku diskon di Toko Buku Toga Mas Buah Batu. Harganya Rp. 15.000 saja. Namun membacanya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai harganya. Continue reading “Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah”