HOPE: Para Pahlawan Pembawa Harapan – Endah Sulwesi & Kurnia Effendi

IMG20171229174444

Judul buku: Hope: Para Pahlawan Pembawa Harapan

Penulis: Endah Sulwesi dan Kurnia Effendi

Penerbit: Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-7888-14-2

Terbit: Februari 2013

Tebal: 178 halaman

Rating: 3,5/5


Siapa yang bisa menolak ketika hati sudah memanggil. Ketika hati merasa bahwa bersimpati saja tidak cukup. Ketika hati telah berhasil memerintahkan otak untuk berpikir dan berbuat sesuatu demi satu kebaikan.

Buku ini mempersembahkan tujuh kisah inspiratif yang membuka mata, menggugah jiwa, menajamkan nurani, dan membawa kesadaran bahwa hal baik itu masih ada dan nyata.

  1. Chanee Brule. Sebuah pengalaman di masa kecil bule asal Prancis ini telah menuntunnya untuk mengikuti kata hatinya. Ia dengan sukarela menghabiskan separuh hidupnya di Kalimantan demi menyelamatkan dan melestarikan hewan langka yang amat dicintainya, Owa-owa.  Di tengah maraknya penyalahgunaan lahan hutan untuk perkebunan sawit, ia berusaha untuk mengedukasi warga lokal agar melindungi hewan langka dan habitatnya.
  2. Dadang Heriadi. Bapak asal Tasik ini rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu BUMN demi mengikuti panggilan hatinya untuk berjuang di Yayasan Keris Nangtung yang ia dirikan-yang fokus merawat orang-orang dengan gangguan jiwa yang ia selamatkan dari jalanan. Kisah yang sungguh mengagumkan! Bagi saya Pak Dadang adalah contoh nyata seorang yang telah benar meyakini bahwa segala yang di dunia ini hanyalah titipan dari-Nya. Kekayaan, jabatan dan popularitas kini sudah bukan lagi prioritas utamanya. Ini salah satu kisah yang membuat saya malu pada diri sendiri. Saya bertanya dan merenung, pernahkah bahkan saya merasa kasihan melihat orang gila yang terlantar di jalanan? :'((((
  3. Fauzanah. Pendiri Puskesmas Matematika ini bilang, “Siapa yang tidak bisa matematika maka ia sakit.” Bu Yan adalah guru yang sudah pensiun tapi masih semangat mengajar matematika di sekolah tempatnya mengajar. Ia bahkan sampai menyediakan semacam “rawat inap” bagi muridnya yang tidak bisa matematika. Ia tidak mematok biaya bagi siswa yang kurang mampu. Jasanya telah membawa beberapa siswa berprestasi dan menggapai mimpinya untuk masuk ke perguruan tinggi impian.
  4. Deradjat Ginandjar Koesmayadi. Ginan begitulah ia disapa. Ia adalah penderita HIV/AIDS yang bangkit dari masa terpuruknya dan berhasil mendirikan Rumah Cemara, sebuah tempat dimana mantan pecandu narkoba berkumpul dan berusaha untuk menyosialisasikan bahaya narkoba dan HIV/AIDS pada masyarakat. Ia juga membuat sebuah tim sepak bola sebagai bagian dari sosialisasi HIV/AIDS. Ini bukan tim sepakbola biasa. Tim sepak bolanya bahkan sudah sampai ke Homeless World Cup Street Soccer Competition di Paris, Prancis.
  5. Iriana Among Praja. Ia adalah seorang dokter yang rela berjuang menjadi guru bagi anak pemulung di daerah Bekasi. Ia mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama “Sekolah Kami”. Meski sempat beberapa kali digusur dan harus berpindah-pindah tempat, ia tetap semangat menyalakan pelita bagi anak pemulung yang kurang beruntung. Ia mempunyai mimpi agar kelak anak-anak pemulung ini bisa mandiri dan punya hidup yang lebih baik.
  6. Irma Suryati. Polio tidak menghalanginya untuk tetap berkarya dan bermanfaat bagi orang banyak. Setelah kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, semangatnya tetap mendorong ia untuk tetap berkreasi. Ia berhasil membuka usaha sendiri dan terus berkembang. Bersama suaminya, Ibu 5 anak ini berhasil mengajak orang-orang dengan cacat fisik, ibu-ibu, waria bahkan PSK untuk punya pekerjaan yang lebih baik dan bisa berkarya.
  7. Sinta Ridwan. Ia adalah seorang yang menekuni filologi. Ia memutuskan untuk hidup bahagia meski penyakit lupus menggerogoti tubuhnya. Ia adalah pejuang pelestarian aksara kuno yang juga suka mengajar aksara kuno dengan sukarela. Selain itu, ia juga adalah seorang penulis yang telah menerbitkan beberapa buku.

Ke tujuh orang di atas adalah contoh nyata bahwa masih ada orang yang rela berbuat baik tanpa haus dipuji atau tersorot kamera. Terpujilah Bapak, Ibu dan Kakak-kakak yang telah rela berjuang demi kebaikan anak cucu kelak. Jasamu abadi!

Membaca buku ini di kala sedang merasa hampir putus asa sungguh adalah obat. Kisah yang meredakan si putus asa dan berhasil membuat malu pada diri sendiri. Masihkah akan banyak mengeluh dan tidak bersyukur? Pekalah.

Semoga bermanfaat.

Salam penuh cinta,

Yossi Fitriani, dan secangkir cokelat hangat.

Advertisements