Novel Brave New World – Aldous Huxley

IMG20180817162954-01

Judul Buku: Brave New World

Penulis: Aldous Huxley

Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto

Editor: Tia Setiadi & Ika Yuliana K.

Penerbit: P. T. Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-291-087-9

Terbit: Juli 2015

Tebal: 268 halaman

Rating: 3.5/5


Konon di masa depan nanti, sekitar tahun A. F. 632 (kurang lebih sekitar tahun 2540 Masehi-berdasarkan hasil googling) manusia tidak lagi dilahirkan dari rahim seorang ibu. Ia diciptakan dalam botol dan melewati sebuah proses bernama Bokanovsky. Manusia diciptakan dengan pengkondisian khusus oleh Kontrolir Dunia dan dibagi ke dalam beberapa kasta bernama Alpha dan Beta sebagai kasta tertinggi, kemudian Gama, Delta dan Epsilon sebagai kasta rendah dengan tujuan terciptanya kestabilan sosial dan peradaban modern ideal.

Tapi yang namanya manusia tetaplah manusia. Tempatnya khilaf dan salah.

Adalah Bernard Marx. Dia adalah anomali diantara semua manusia modern kebanyakan. Dia adalah seorang Alpha yang “cacat” yang diakibatkan oleh alkohol dan magnesium yang tercampur tidak sesuai takaran saat proses pembuahan dalam botol. Pengkondisian tidak menjadikannya manusia yang menerima nasib sesuai kastanya. Bernard mempunyai banyak pertanyaan dan kejanggalan akan hidupnya dan mendambakan kemerdekaan.

“Kebahagiaan susah dikuasai–terutama kebahagiaan orang lain. Lebih susah lagi, jika seseorang tidak dikondisi untuk menerima kebahagiaan itu tanpa syarat, ketimbang kebenaran.” – Hlm. 231.

Bersama sahabatnya, Hemholtz Watson-yang juga tidak seperti kebanyakan manusia lainnya, Bernard menuju sebuah Reservasi Liar, tempat peradaban kuno dan tak sempurna yang kemudian membawanya pada seorang yang masih percaya adanya Tuhan dan masih mempunyai Ibu. Ia adalah Si Liar yang kemudian Bernard percayai bisa menjadi kunci untuk mengguncang kestabilan dunia modern.

“Kau tidak bisa membuat mesin tanpa baja–dan kau tidak bisa membuat tragedi tanpa ketidakstabilan sosial.” Hlm. 223.

Novel ini menggambarkan masa depan yang cukup mengerikan. Masa dimana manusia modern tidak tahu Tuhan, tidak ada istilah ibu, ayah, anak, tidak ada hiburan selain mengkonsumsi Soma (sejenis narkoba), tidak ada pernikahan, tidak ada kesenian, tidak boleh baca cerita sejenis Romeo dan Juliet, dan sains hanyalah sekedar buku resep masak dengan satu teori masak ortodoks yang tak boleh dipertanyakan. Yang menarik dan saya harapkan ada di masa depan dari novel ini hanyalah taxicopter-nya alias taksi helikopter. Wkwk

“Tapi, aku tidak ingin kenyamanan. Aku ingin Tuhan, aku ingin puisi, aku ingin bahaya nyata, aku ingin kebebasan, aku ingin kebaikan, aku ingin dosa.”
“Dalam kenyataan,” kata Mustapha Mond, “kau mau mengklaim hak untuk merasa tidak bahagia.” – Hlm. 244.

Novel dystopian pertama yang saya baca dengan penuh kebingungan di awal karena banyak istilah yang saya tak paham dan thanks God… Google hadir sebagai penyelamat untuk tetap penasaran baca novel ini sampe tamat.

Salut luar biasa dengan Aldous Huxley atas karyanya yang satu ini. Buku ini terbit pertama kali di tahun 1932 dan terbit pertama di Indonesia tahun 2015.

Menurut The Guardian, “Dua Buku visioner pada paruh kedua abad ke-20 yang membayangi masa depan kita: 1984 (George Orwell) dan Brave New World.”

Abis ini, jadi ingin baca 1984!!!

 

Advertisements

HOPE: Para Pahlawan Pembawa Harapan – Endah Sulwesi & Kurnia Effendi

IMG20171229174444

Judul buku: Hope: Para Pahlawan Pembawa Harapan

Penulis: Endah Sulwesi dan Kurnia Effendi

Penerbit: Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-7888-14-2

Terbit: Februari 2013

Tebal: 178 halaman

Rating: 3,5/5


Siapa yang bisa menolak ketika hati sudah memanggil. Ketika hati merasa bahwa bersimpati saja tidak cukup. Ketika hati telah berhasil memerintahkan otak untuk berpikir dan berbuat sesuatu demi satu kebaikan.

Buku ini mempersembahkan tujuh kisah inspiratif yang membuka mata, menggugah jiwa, menajamkan nurani, dan membawa kesadaran bahwa hal baik itu masih ada dan nyata.

  1. Chanee Brule. Sebuah pengalaman di masa kecil bule asal Prancis ini telah menuntunnya untuk mengikuti kata hatinya. Ia dengan sukarela menghabiskan separuh hidupnya di Kalimantan demi menyelamatkan dan melestarikan hewan langka yang amat dicintainya, Owa-owa.  Di tengah maraknya penyalahgunaan lahan hutan untuk perkebunan sawit, ia berusaha untuk mengedukasi warga lokal agar melindungi hewan langka dan habitatnya.
  2. Dadang Heriadi. Bapak asal Tasik ini rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu BUMN demi mengikuti panggilan hatinya untuk berjuang di Yayasan Keris Nangtung yang ia dirikan-yang fokus merawat orang-orang dengan gangguan jiwa yang ia selamatkan dari jalanan. Kisah yang sungguh mengagumkan! Bagi saya Pak Dadang adalah contoh nyata seorang yang telah benar meyakini bahwa segala yang di dunia ini hanyalah titipan dari-Nya. Kekayaan, jabatan dan popularitas kini sudah bukan lagi prioritas utamanya. Ini salah satu kisah yang membuat saya malu pada diri sendiri. Saya bertanya dan merenung, pernahkah bahkan saya merasa kasihan melihat orang gila yang terlantar di jalanan? :'((((
  3. Fauzanah. Pendiri Puskesmas Matematika ini bilang, “Siapa yang tidak bisa matematika maka ia sakit.” Bu Yan adalah guru yang sudah pensiun tapi masih semangat mengajar matematika di sekolah tempatnya mengajar. Ia bahkan sampai menyediakan semacam “rawat inap” bagi muridnya yang tidak bisa matematika. Ia tidak mematok biaya bagi siswa yang kurang mampu. Jasanya telah membawa beberapa siswa berprestasi dan menggapai mimpinya untuk masuk ke perguruan tinggi impian.
  4. Deradjat Ginandjar Koesmayadi. Ginan begitulah ia disapa. Ia adalah penderita HIV/AIDS yang bangkit dari masa terpuruknya dan berhasil mendirikan Rumah Cemara, sebuah tempat dimana mantan pecandu narkoba berkumpul dan berusaha untuk menyosialisasikan bahaya narkoba dan HIV/AIDS pada masyarakat. Ia juga membuat sebuah tim sepak bola sebagai bagian dari sosialisasi HIV/AIDS. Ini bukan tim sepakbola biasa. Tim sepak bolanya bahkan sudah sampai ke Homeless World Cup Street Soccer Competition di Paris, Prancis.
  5. Iriana Among Praja. Ia adalah seorang dokter yang rela berjuang menjadi guru bagi anak pemulung di daerah Bekasi. Ia mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama “Sekolah Kami”. Meski sempat beberapa kali digusur dan harus berpindah-pindah tempat, ia tetap semangat menyalakan pelita bagi anak pemulung yang kurang beruntung. Ia mempunyai mimpi agar kelak anak-anak pemulung ini bisa mandiri dan punya hidup yang lebih baik.
  6. Irma Suryati. Polio tidak menghalanginya untuk tetap berkarya dan bermanfaat bagi orang banyak. Setelah kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, semangatnya tetap mendorong ia untuk tetap berkreasi. Ia berhasil membuka usaha sendiri dan terus berkembang. Bersama suaminya, Ibu 5 anak ini berhasil mengajak orang-orang dengan cacat fisik, ibu-ibu, waria bahkan PSK untuk punya pekerjaan yang lebih baik dan bisa berkarya.
  7. Sinta Ridwan. Ia adalah seorang yang menekuni filologi. Ia memutuskan untuk hidup bahagia meski penyakit lupus menggerogoti tubuhnya. Ia adalah pejuang pelestarian aksara kuno yang juga suka mengajar aksara kuno dengan sukarela. Selain itu, ia juga adalah seorang penulis yang telah menerbitkan beberapa buku.

Ke tujuh orang di atas adalah contoh nyata bahwa masih ada orang yang rela berbuat baik tanpa haus dipuji atau tersorot kamera. Terpujilah Bapak, Ibu dan Kakak-kakak yang telah rela berjuang demi kebaikan anak cucu kelak. Jasamu abadi!

Membaca buku ini di kala sedang merasa hampir putus asa sungguh adalah obat. Kisah yang meredakan si putus asa dan berhasil membuat malu pada diri sendiri. Masihkah akan banyak mengeluh dan tidak bersyukur? Pekalah.

Semoga bermanfaat.

Salam penuh cinta,

Yossi Fitriani, dan secangkir cokelat hangat.

Eat Play Leave – Jenny Jusuf

IMG20171008151853.jpg

Judul buku: Eat Play Leave: Kisah Bule – Bule Bali

Penulis: Jenny Jusuf

Editor: Nurjannah Intan

Perancang Sampul: Upit Dyoni

Ilustrasi Isi: Upit Dyoni

Penerbit: B First – PT Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-1246-06-1

Terbit: Mei 2014

Tebal: 260 halaman

Rating: 4/5


Blurb

“Bali is a melting pot. Bukan hanya soal kewarganegaraan, tapi semua jenis orang bisa kamu temui di sini.”

***

Berbekal dua buah koper besar dan tekad menggunung, Jenny Jusuf resmi meninggalkan keriuhan kota Metropolitan dan memilih untuk menyepi di Ubud. Awalnya, ia mengira kesunyian Ubud akan menjadi sahabatnya. Nyatanya tidak! Alih-alih menikmati sepi, Jenny harus terus beradaptasi demi menemui orang-orang asing yang tingkah lakunya aneh bin ajaib.

Perempuan-perempuan lajang berkulit putih melamun dengan buku Eat Pray Love di pangkuan. Para lelaki setengah baya yang menganggap diri mereka sepupu jauh Brad Pitt, berusaha menarik perhatian perempuan Asia eksotis berkulit halus. Bule-bule berkaus lengan buntung dengan simbol yoga mentereng berseliweran sambil bertelanjang kaki. Hingga orang-orang asing yang berstatus menumpang, tetapi jauh dari ramah dan kerap menantang kesabaran.

Aha, Welcome to Bali 🙂


Review

Buku ini adalah salah satu buku yang saya bawa pulang dari Jabar Book Fair 2017 di Landmark – Braga, Bandung. Entah kenapa saat itu saya sedang tertarik membaca buku lifestyle atau kumpulan cerita dan memilih mengenyampingkan dulu hasrat untuk membeli novel romance seperti biasanya.

Buku ini menjadi buku ke 12 yang saya baca di tahun ini. Beres dibaca kira-kira sekitar bulan Oktober lalu. Sebelum saya menulis kesan-kesan saya di-blog-yang-aduh-maaf-rajin-dianggurin ini, saya menulis kesan singkat dari buku yang saya baca di akun instagram dan seringnya saya post di instagram dulu sebelum bercuap-cuap disini. Kali ini, mari disimak kesan-kesan saya setelah membaca kisah perjalanan Jenny Jusuf dalam Eat Play Leave. Cusssss ~

Whatever will be, will be. Apapun yang terjadi, terjadilah. – Hlm. 43

Keinginan dan harapan memang tak selalu sesuai dengan kenyataan. Keinginan penulis yang ingin menyepi dan rehat dari kebisingan Kota Jakarta malah membawanya pada situasi dimana ia harus belajar lebih sabar dalam menghadapi kelakuan bule-bule yang ditemuinya.

Ada Feza yang berasal dari Turki dan Keroppi yang (juga dari Turki, tapi) ngakunya dari Spanyol. Mereka adalah backpackers yang Jenny kenal dari Coachsurfing, sebuah situs jejaring sosial yang memungkinkan kita untuk menumpang atau memberi tumpangan tempat tinggal untuk backpacker. Mereka nyebelinnya parah. Satu bau ketek dan jarang mandi, satunya lagi bau kaki. Zzzzzz kebayang betapa sabarnya penulis saat harus menampung mereka berdua yang betah tinggal di kostannya. Subhanalloh pokoknya.

Hidup itu berputar dan warna-warni. Engga selamanya juga ketemu orang yang nyebelin. Beruntung, Jenny punya sahabat luar biasa yang mengingatkannya akan matahari di serial Teletubbies. Dia adalah Isabella. Bule yang lahir dan besar di Amerika, menghabiskan separuh hidupnya di Eropa dan sekarang tinggal di Bali. Isabella banyak memberi pencerahan dan pelajaran perihal menghindari obat-obat kimia dan lebih memilih apa-apa yang serba alami. Selain itu, kebaikan hati dan caranya menjalani hidup juga patut banget buat dicontoh.

Sahabat: seseorang yang punya akses tak terbatas untuk menghubungi kita kapan saja, dimana saja. (Hlm. 74)

 

When I lose faith and can no longer count my blessings, I count my best friends. It’s true. (Hlm. 75)

Selanjutnya ada bule-bule dengan berbagai kisah cintanya di Bali. Semenjak Bali dijadikan lokasi syuting Eat Pray Love, Ubud seakan punya magnet untuk menarik wisatawan dengan niat untuk mencari cinta di Bali. Ada Amandine dan June yang pada akhirnya malah patah hati, ada juga Pak Josh yang cinta sekali Indonesia dengan perjuangan cintanya yang luar biasa sampai akhirnya punya istri orang Indonesia. Ada juga kisah cinta Vidal, Ben & Julia, juga Cassie. Kisah cinta yang dihadirkan di buku ini tak hanya membawa kita hanyut, meleleh dan mengharu biru, banyak kata-kata quotable nan berfaedah yang bikin hati jadi adem, ayem, tentrem.

Lucu rasanya, betapa patriotisme justru bisa timbul setelah bergaul dengan orang-orang asing, yang terang kulitnya berbeda, bola matanya tak sewarna, yang di nadinya tak mengalir darah Indonesia, tetapi punya cinta yang sama. (Hlm. 84)

 

Barangkali gue hanya ingin percaya. Bahwa suatu saat nanti kami akan menemukan cinta lagi. Dan, kali ini, cinta datang untuk menetap. (Hlm. 91)

 

Harapan bahkan ada dalam patah hati, yang sejatinya membukapeluang bagi cinta-cinta berikutnya. (Hlm. 93)

 

Kalau Gusti setia dengan falsafah gunungnya, gue memegang teguh prinsip jelangkung: jodoh akan datang tanpa diundang. (Hlm.97)

 

Kebahagiaan sesederhana memilih dan menerima bahwa hidup tetap indah sekalipun ia tidak sempurna. Sendiri atau bersama orang yang dicinta. (Hal. 106)

Satu lagi cerita favorit saya di buku ini adalah kisah sahabat Jenny yang bernama Cisco. Cisco hadir mengisi beberapa chapter di buku ini. Cisco adalah cowok yang hanya ingin menikmati hidup di setiap harinya. Dan cuma dia yang Jenny kenal, orang yang berumur dibawah tiga puluh tahun yang bisa dengan mantap berkata, “Kalau gue mati besok, gue akan pergi dengan bahagia.”

Banyak kisah menarik lainnya yang hadir menjadi bagian dari total 14 chapter yang buku ini sajikan. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa ilustrasi yang menggambarkan Jenny dan para bule dengan porsi yang pas dan lucu.

Buku ini tak hanya membawa saya seakan sedang menikmati indahnya Ubud, tapi juga memberikan banyak pelajaran hidup. Setiap cerita yang dibawakan Jenny Jusuf, memberikan pencerahan dan punya hikmah masing-masing. Saya suka gaya menulis Jenny Jusuf yang ngalir dan berhasil membuat saya ngerasa lagi dengerin Jenny Jusuf bercerita dan lupa kalo saya ini lagi baca bukunya.

Kiranya, kisah bule yang dituangkan kurang banyak. Saya masih ingin mendengar cerita-cerita lainnya. Semoga Jenny Jusuf yang sekarang masih menetap di Bali bisa mengeluarkan buku terbarunya lagi. Walau bukan tentang bule lagi, saya akan dengan senang hati menanti lalu membacanya.

Pesan moral: Bule juga manusia.

Semoga bemanfaat.

Semoga saya makin rajin nulis.

Dan,

Terima kasih yang sudah baca.

 

Tons of Love,

Yossi Fitrianiyang sedang halu ingin liburan ke Bali.

Novel 2 States – Chetan Bhagat

IMG20171210130250.jpg

Judul buku: 2 States

Penulis: Chetan Bhagat

Editor: Ade Kumalasari

Penerjemah : Marcalais Fransisca

Desain sampul: Upiet

Ilustrasi isi: Upiet

Penerbit: PT Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-7888-78-4

Terbit: Oktober 2013 (Terbit pertama di India 2009)

Tebal: 482 halaman

Rating: 4/5


Horaaaaaaaaaayyyyyyyyyyyyy !!!! Review lagi…

Anyway… Siapa yang belum pernah nonton film 3 Idiots? Siapa yang udah pernah? Cung cung cung!!!

I am sure, most of us have ever watched that movie. Kalo belum nonton, wajib nonton (soalnya ada Aamir Khan :D)! A must watch! Trust me! Apalagi buat para mahasiswa, kudu pokokna mah !!! *ngotot*.

3 Idiots was adapted from the novel Five Point Someone by Chetan Bhagat. Chetan Bhagat menjadi sangat terkenal karena karya-karyanya yang menginspirasi, tak cuma menghibur tapi selalu kaya akan pesan moral di dalamnya. That’s why, karya-karyanya menjadi mendunia dan banyak diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Chetan Bhagat bahkan disebut The New York Times sebagai pengarang novel berbahasa Inggris terlaris sepanjang sejarah India. Sugoiiiiiii !

Well, novel yang kali ini akan saya review adalah karya lain dari Chetan Bhagat yang tak kalah seru, tak kalah menghibur dan berhasil mengisi kepala kita dengan hal-hal baru mengenai India yang juga tentunya penuh inspirasi.

So… Here we go….

2 States – The Story of My Marriage. Berbeda dengan novel Chetan Bhagat lainnya yang lebih bertema pendidikan, 2 states merupakan sebuah novel komedi romantis yang mengangkat kisah cinta antara dua orang India dengan latar belakang perbedaan budaya yang sangat signifikan. Continue reading “Novel 2 States – Chetan Bhagat”