Novel Athirah – Alberthiene Endah

Sight_2017_01_15_185225_854

Judul buku: Athirah

Penulis: Albethiene Endah

Penerbit: Noura Books

ISBN: 978-602-78-1667-1

Terbit: Cetakan Pertama-Desember 2013, Edisi Cover Film-Agustus 2016

Tebal: 400 halaman

Rating: 4/5


Blurb

“Apakah ini artinya Emma kalah, Jusuf?”
Pertanyaan Emma menusuk batinku. Aku pilu. Mata bening Emma basah.
Angin sore mendadak terasa sangat dingin.
Cahaya matahari dari barat jatuh di wajah Emma. Dukanya semakin terlihat.

Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu.
Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu.
Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu.
Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri.
Emma adalah perjalanan keberanian. Ada sosok yang kokoh dalam dirinya yang bertumpu.
Maka, kini, aku akan bercerita tentang dia, ibuku.
Emma-ku, Athirah.
Perempuan indah yang mengajarkan aku tentang hidup.


Review

-Di balik kesuksesan seseorang, selalu ada perjuangan berat yang tak hanya menguras keringat, tapi juga air mata.- (Cisirung, Desember 2017)

Buku ini membawa saya tenggelam ke dalam kisah perjuangan seorang ibu yang luar biasa. Seorang perempuan yang ketangguhan dan kelembutan hatinya patut dijadikan panutan oleh perempuan manapun. Seorang perempuan yang telah berhasil menghantarkan anaknya sukses menjadi pengusaha terpandang di negeri ini dan telah menghantarkannya dua kali menjabat sebagai wakil president Republik Indonesia. Ibu itu adalah Athirah, Ibunda dari Bapak Jusuf Kalla.

Athirah seperti menjadi cerita komplit tentang perjuangan seorang perempuan. Ia harus rela menerima dengan lapang dada akan kenyataan bahwa suaminya telah melabuhkan hati pada perempuan lain. Athirah menunjukan ketegarannya dengan tetap mendidik anak-anaknya dengan kasih. Walau sakit akan kisah rumah tangganya yang tak berjalan mulus dan harus merelakan suaminya yang lebih memilih tinggal bersama istri barunya, ia tak pernah sedikitpun berusaha menunjukan kesedihannya. Ia tetap berjuang dan bahkan semua itu seolah tak ia rasa lagi ketika ia fokus untuk membangun dan mengelola bisnis kain suteranya.

Kau telah mati jika tak lagi memberimu alasan untuk bersabar. – Hlm. 4

Bagi saya, Athirah adalah sosok perempuan cerdas yang visioner dan pekerja keras. Ilmu berbisnisnya sungguh luar biasa. Di balik rasa sakitnya, ia berhasil melebarkan bisnis kain sutera dengan pelanggan yang tersebar dimana-mana. Dari sinilah saya tahu dari mana ilmu berbisnis Jusuf Kalla berasal. Athirah telah mengajarkan Jusuf Kalla berbisnis sejak usia belia dengan mengajak Jusuf Kalla ikut berdagang, mencari kain, bahkan mengajarkannya strategi untuk mengelola uang di saat krisis ekonomi melanda. Jusuf Kalla juga belajar berbisnis dari ayahnya, Hadji Kalla. Ayahnya adalah pengusaha terpandang di Sulawesi Selatan.

Kehidupan yang berat itu berhasil dilalui hingga anak-anaknya beranjak dewasa. Di novel ini dituturkan pula bagaimana kehidupan percintaan Jusuf Kalla dengan Mufidah. Kisah cinta Athirah menjadi pelajaran bagi Jusuf Kalla untuk berhati-hati dalam urusan perempuan dan cinta. Kisah cinta Jusuf Kalla dan Mufidah menjadi bumbu yang menambah manis dengan humor yang pas. Melted ~

Inilah susahnya menghadapi kaum hawa. Kau tak akan mendapat jawaban ketika kau membutuhkan jawaban. Dan, kau diajak berputar dalam perjalanan rumit ketika kau bahkan tak melihat sesuatu yang rumit. – Hlm. 13

 

Laki-laki memang tak sepenuhnya bisa diyakini. Cinta yang sangat kuat dengan fondasi yang kukuh di awal tak menjamin munculnya kesetiaan yang abadi. Setiap perempuan boleh angkuh memutuskan kepada siapa cinta dan kepercayaan hendak diberikan. – Hlm. 219

Kisah di buku ini dituturkan dengan sangat apik dan manis oleh AE. Athirah telah memberikan banyak sekali pelajaran berharga tak hanya bagi Jusuf Kalla dan anak-anaknya yang lain. Kisahnya telah mampu menembus hati saya yang paling dalam. Sakitnya, perjuangannya, lembut kasihnya, saya bisa rasakan hingga saya pun tak sanggup menahan air mata saya ketika membacanya. Athirah adalah cerminan dari “galau berkelas” bagi seorang perempuan. Athirah, sosok perempuan tangguh panutan bagi perempuan-perempuan yang pernah disakiti hatinya.

Istri adalah nafas keluarga. Kau yang akan mengatur denyut nadi semangat keluargamu. Kau yang bisa menjaga emosi dan menciptakan damai di rumahmu. Kau yang akan menyeimbangi kesibukan suamimu dengan keindahan-keindahan yang bisa diciptakan perempuan di dalam rumah. Ketika seorang ibu menangis, ia menciptakan hujan badai di rumah. Ketika seorang ibu tersenyum, ia menciptakan berjuta suka cita. Jika ibu meledakkan hatinya, keluarga akan ikut meledak… – Hlm. 336

Teruntuk para lelaki yang entah punya niat atau tidak untuk berpoligami, kiranya buku ini bisa menjadi bahan bacaan yang menarik. Karena buku ini tak hanya menarik bagi seorang perempuan. Kisah dan pelajarannya bisa jadi panutan bagi semua orang.

Semoga bermanfaat.

Love,

Yossi Fitriani, yang sedang mencuri waktu.

Advertisements

Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah

wp_20161020_21_13_52_pro

Judul buku: Detik Terakhir

Judul lama: Jangan Beri Aku Narkoba

Penulis: Alberthiene Endah

Editor: Ikeu dan Donna

Desain sampul: eMTe

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2214-6

Terbit: April 2004

Tebal: 248 halaman

Penghargaan: Penghargaan Adikarya IKAPI (2007)

Rating: 4/5


Blurb & Sinopsis

“Narkoba telah menghancurkanmu….”

“Bukan. Bukan dia. Dia Cuma bubuk putih yang tahu bagaimana untuk bersiasat memberi penyelamatan dalam dunia yang begini kurang ajar.”

“Kamu menjadi rusak. Kamu menjadi celaka. Kamu menjadi lesbian. Semua karena narkoba.”

“Saya korban orang tua yang rusak. Saya korban akhlak mereka yang celaka. Tapi saya menjadi lesbian karena cinta itu memang ada. Hanya itu yang saya punya.”

“Kamu kalap. Kamu harus masuk panti.”

“Kenapa kalian hanya memikirkan saya dan narkoba? Kenapa kalian tidak pernah berpikir untuk membuat panti bagi orang-orang yang membuat saya celaka. Orang tua.”

Arimbi korban yang tak terelakkan dari kehidupan rumah tangga kaum jetset yang bobrok. Seperti kebanyakan remaja frustasi, ia dengan mudah mengenal narkoba dan dalam waktu singkat bersetubuh dengan bubuk melenakan itu. Kisah ini bercerita tentang proses psikologis seorang gadis muda melawan (atau melindungi dirinya dari) kehidupan yang sangat dia benci. Bagaimana ia berjuang mendapatkan kemenangan yang ia yakini dengan mencintai sesama perempuan. Bagaimana ia bergulat dalam proses pengenalan dirinya di tengah situasi yang bagi orang kebanyakan adalah proses tak sadar karena dipengaruhi narkoba.

Tapi Arimbi bukan korban klise dari jerat narkoba yang bisa diselesaikan dengan tindakan instan masa kini: detoksifikasi dan panti rehabilitasi. Ia, dengan sisa-sisa kesadaran dan rasa cintanya yang besar pada kekasihnya, Vela, berusaha melepaskan diri dari kehidupan yang ia benci sekaligus narkoba dengan suara hati yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Ironisnya, apa yang ia perjuangkan dipandang orang lain sebagai salah satu dampak buruk narkoba.

Kisah Arimbi merupakan gambaran kegagalan orangtua masa kini (dan institusi pemberantasan narkoba) dalam menyelesaikan kasus-kasus narkoba. Ada begitu banyak mantan pecandu yang masih bergulat dengan persoalan-persoalan yang belum selesai.

Review

Novel ini pertama kali terbit 12 tahun yang lalu dengan judul “Jangan Beri Aku Narkoba”. Kemudian terbit lagi dengan judul yang berganti menjadi “Detik Terakhir” di tahun 2006. 10 tahun kemudian saya baru berkesempatan membaca buku ini. Lagi pula di tahun 2004 atau 2006 saya belum cukup umur untuk membaca novel ini. He he hehe.

Saya temukan buku ini ketika berburu buku diskon di Toko Buku Toga Mas Buah Batu. Harganya Rp. 15.000 saja. Namun membacanya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai harganya. Continue reading “Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah”