Curhat di Musim Banjir

Sudah dua minggu ini hampir setiap hari Bandung dilanda hujan. Alhasil seperti biasa hujan selalu menyebabkan banjir di Dayeuh Kolot, Bale Endah dan beberapa daerah lainnya di Kabupaten Bandung. Oh tidak. Salah. Bukan hujan yang menyebabkan banjir. Penyebab banjir sebenarnya adalah kita sendiri. Kita yang kurang merawat lingkungan kita sendiri. Kita yang tidak memperhatikan bahkan tidak peduli pada lingkungan sendiri. Hasilnya, sampah yang menumpuk, selokan yang tidak mengalir, gorong-gorong yang mampet, sungai yang semakin jadi dangkal ini membuat air kehilangan tempatnya. Air mengalir ke tempat-tempat yang tak seharusnya dilalui. Tapi bagaimana lagi, sungai Citarum ini sudah tak mampu lagi mengalirkan air dijalurnya. Air meluap karena terlalu banyak sementara sungai sudah tak sedalam dulu. Belum lagi dikala hujan besar melanda, ini adalah momen pas bagi sebagian pabrik yang beroperasi disini untuk membuang limbah mereka secara sadis hanyut bersama air hujan. Itulah kenapa air yang mengalir di jalan Moh. Toha – Dayeuh Kolot sering terlihat bagai pelangi kusam. Beberapa meter merah, beberapa meter biru, beberapa meter hijau, beberapa meter cokelat, beberapa meter hitam pekat dan sudah jelas bau.

Hal lain yang sudah pasti terjadi ketika hujan besar melanda adalah macet. Yap. Karena disini adalah daerah industri, dalam sehari jalan Moh. Toha – Dayeuh Kolot ini dilalui ratusan atau bahkan ribuan orang yang pergi mencari serpihan kehidupan. Di kala banjir melanda sudah jelas beberapa jalan jadi tidak bisa dilalui. Dan semua orang yang akan berangkat bekerja beramai-ramai mencari jalan alternatif.

Jika jalur Moh. Toha – Dayeuh Kolot sudah banjir, maka alternatifnya (untuk saya yang berangkat dari Bale Endah ke Jalan Cisirung-Dayeuh Kolot) adalah lewat Jalan Bojongsoang atau lewat Rancamanyar. Karena belum terlalu hafal jalan Rancamanyar, maka saya biasa melewati jalan Bojongsoang.

Hari Selasa, 01 November 2016 lalu adalah macet terparah yang pernah saya alami. Saya berangkat lebih pagi dari biasanya, berangkat jam 06.30. Ternyata saya masih kurang pagi. Baru beberapa meter motor melaju meninggalkan rumah, motor dan mobil sudah padat merayap menghasilkan kemacetan. Jalur arah ke Buah Batu sudah dipadati oleh sebagian besar karyawan yang akan berangkat kerja bahkan sampai memadati jalan arah sebaliknya. Continue reading “Curhat di Musim Banjir”

Advertisements