Empat Kumpulan Sajak – Rendra

IMG20180826223557-01

Judul Buku: Empat Kumpulan Sajak

Penulis: Rendra

Penerbit: Pustaka Jaya

ISBN: 979-419-311-9

Terbit: Terbit Pertama 1961, Cetakan kedua oleh Pustaka Jaya 1978

Tebal: 163 halaman

Rating: 4/5


Lagu Angin
Jika aku pergi ke timur
arahku jauh, ya, ke timur.
Jika aku masuk ke hutan
aku disayang, ya, di hutan
Aku pergi dan kakiku adalah hatiku.
Sekali pergi menolak rindu.
Ada duka, pedih dan airmata biru
tapi aku menolak rindu.
(Hlm. 59)

Sesuai judulnya buku ini menghimpun empat kumpulan sajak yang ditulis Rendra saat masa mudanya. Keempat kumpulan sajak itu adalah Kakawin Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan dan Sajak-Sajak Dua Belas Perak. Tema yang diangkat dalam sajak-sajaknya beberapa ada tentang cinta, tentang alam dan beberapa tentang kepedulian sosial.

Buku ini terbit pertama kali di tahun 1961 dan yang baru saja saya baca ini adalah cetakan ke sebelasnya yang terbit di tahun 2016.

Lewat sajak-sajaknya, Rendra abadi. Ia dikenal sebagai salah satu penyair terbaik Indonesia.

Rendra lahir di Solo saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda pada 7 November 1935 dan wafat di Depok pada 6 Agustus 2009. Kita sering juga mengenalnya sebagai W. S. Rendra dimana semula namanya adalah Willibrordus Surendra Broto. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra sejak ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Membaca sajak terkadang butuh pengetahuan tentang riwayat hidup penulisnya dan kehidupan yang ada saat sajak itu ditulis. Beberapa sajak memang perlu saya baca berulang agar paham maksudnya, beberapa lagi saya belum paham. Hehee…

Saya senang dengan sajak-sajak tentang cintanya. Satu yang menjadi favorit saya adalah sajak yang ditulis Rendra untuk ibunya ketika akan menikahi Sunarti Suwandi berjudul Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya. Ingin rasanya saya tuliskan sajak itu disini, tapi rasanya bakal agak kepanjangan.

Sebagai penutup, saya sisipkan sajak yang menggetarkan ini untuk teman-teman.

Bumi Hangus
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
apa lagi kita punya? Berapakah harga cinta?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
Kita harus pergi ke mana, di mana rumah kita?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
bimbang kalbu oleh cedera
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
hari ini maut giliran siapa?
(Hlm. 67)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s