[Kutipan] Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

IMG20180108171444-01

“Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya.” – Hlm. 9

“Aspirasi sastra mereka tak ubahnya kampanye politik, atau tepatnya taktik militer, yang dikerahkan untuk merobohkan tembok-tembok ketidakterkenalan, penghalang tak tertembus yang cuma bisa diatasi oleh segelintir orang untuk mencapai status terpandang” – Hlm. 15

“Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri sebagaimana adanya-keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep.” – Hlm. 22

“Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak buku-buku belaka.” – Hlm 26

“Yang saya inginkan adalah memiliki buku terjangkau dengan kondisi sebaik mungkin, kalau tidak saya gelisah.” – Hlm. 28

“Kalau boleh saya pinjam separuh kalimat Borges: perpustakaan adalah pintu memasuki waktu.” – Hlm. 31

“Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” – Hlm. 32

“Saya mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit.” – Hlm. 33

“Barangkali Anda sadar bahwa apabila kita membaca dengan menggumam, kita mengeluarkan bunyi-bunyian abjad dengan frekuensi yang tak terdengar.” – Hlm. 41

“… sebab bagi seorang pecinta buku membayangkan kebakaran saja ibarat menghanguskan mimpi jadi abu.” – Hlm. 45

“Hubungan yang dijalin manusia dengan benda awet yang sanggup bertahan satu, dua, bahkan dua puluh abad ini, dan dengan demikian mengalahkan bulir-bulir pasir waktu, tak pernah berlangsung lugu. Panggilan hidup manusia menjadi terikat pada bubur kayu lunak yang tak terhancurkan ini.” – Hlm. 58


Ps:

Again, saya cuma mau bilang buku ini luar biasa. A must read buat pecinta buku. Buku yang semakin dibaca berulang, semakin kamu dihantuinya.

Advertisements

[Kutipan] The Architecture of Love – Ika Natassa

img20161004172704

“A girl can never go wrong with a little black dress.” – Hlm. 10

“Dia menulis karena dia cinta meulis dan dia menulis kisah karena ada yang ingin dia ceritakan, bukan karena ingin mencari popularitas atau award atau mengejar pujian.” – Hlm. 11

“Tersenyum pahit sendiri saat dia menyadari hidup itu untuk dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan.” – Hlm. 13

“Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do.” – Hlm. 15

“Salah satu kutukan penulis: terkadang memberi makna berlebihan pada kalimat yang seharusnya berarti sederhana, apa adanya.” – Hlm. 47

“Kita memang tidak pernah bisa memastikan kapan kita bisa menerima masa lalu, seberapa jauh pun kita sudah mencoba melangkah ke masa depan.” – Hlm. 60

“Tapi Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dan memisahkan, menjauhkan dan mendekatkan, yang tidak pernah bisa kita duga-duga.” – Hlm. 65

“People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory” – Hlm. 66

“Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow.” – Hlm. 85

“… memaki tidak akan bisa membuat kita melupakan orang yang pernah-dan mungkin-masih kita cintai.” – Hlm. 108

“Tapi banyak hal yang memang lebih gampang kita sarankan ke orang lain daripada kita lakukan sendiri, kan, Riv?” – Hlm. 170

“Mungkin ini satu lagi kutukan perempuan. Tetap melakukan sesuatu yang dia tahu dan sadar akan berujung menyakiti, hanya karena itulah yang diinginkan seseorang yang disayanginya.” – Hlm. 171

“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir.” – Hlm. 270

“There’s always something undeniably romantic about bookstores.” – Hlm. 272

“… diingat oleh seseorang yang disayangi itu juga menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan memiliki alasan untuk pulang.” – Hlm. 288

Empat Kumpulan Sajak – Rendra

IMG20180826223557-01

Judul Buku: Empat Kumpulan Sajak

Penulis: Rendra

Penerbit: Pustaka Jaya

ISBN: 979-419-311-9

Terbit: Terbit Pertama 1961, Cetakan kedua oleh Pustaka Jaya 1978

Tebal: 163 halaman

Rating: 4/5


Lagu Angin
Jika aku pergi ke timur
arahku jauh, ya, ke timur.
Jika aku masuk ke hutan
aku disayang, ya, di hutan
Aku pergi dan kakiku adalah hatiku.
Sekali pergi menolak rindu.
Ada duka, pedih dan airmata biru
tapi aku menolak rindu.
(Hlm. 59)

Sesuai judulnya buku ini menghimpun empat kumpulan sajak yang ditulis Rendra saat masa mudanya. Keempat kumpulan sajak itu adalah Kakawin Kawin, Malam Stanza, Nyanyian dari Jalanan dan Sajak-Sajak Dua Belas Perak. Tema yang diangkat dalam sajak-sajaknya beberapa ada tentang cinta, tentang alam dan beberapa tentang kepedulian sosial.

Buku ini terbit pertama kali di tahun 1961 dan yang baru saja saya baca ini adalah cetakan ke sebelasnya yang terbit di tahun 2016.

Lewat sajak-sajaknya, Rendra abadi. Ia dikenal sebagai salah satu penyair terbaik Indonesia.

Rendra lahir di Solo saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda pada 7 November 1935 dan wafat di Depok pada 6 Agustus 2009. Kita sering juga mengenalnya sebagai W. S. Rendra dimana semula namanya adalah Willibrordus Surendra Broto. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra sejak ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Membaca sajak terkadang butuh pengetahuan tentang riwayat hidup penulisnya dan kehidupan yang ada saat sajak itu ditulis. Beberapa sajak memang perlu saya baca berulang agar paham maksudnya, beberapa lagi saya belum paham. Hehee…

Saya senang dengan sajak-sajak tentang cintanya. Satu yang menjadi favorit saya adalah sajak yang ditulis Rendra untuk ibunya ketika akan menikahi Sunarti Suwandi berjudul Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya. Ingin rasanya saya tuliskan sajak itu disini, tapi rasanya bakal agak kepanjangan.

Sebagai penutup, saya sisipkan sajak yang menggetarkan ini untuk teman-teman.

Bumi Hangus
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
apa lagi kita punya? Berapakah harga cinta?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
Kita harus pergi ke mana, di mana rumah kita?
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
bimbang kalbu oleh cedera
Di bumi yang hangus hati selalu bertanya
hari ini maut giliran siapa?
(Hlm. 67)

Novel Brave New World – Aldous Huxley

IMG20180817162954-01

Judul Buku: Brave New World

Penulis: Aldous Huxley

Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto

Editor: Tia Setiadi & Ika Yuliana K.

Penerbit: P. T. Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-291-087-9

Terbit: Juli 2015

Tebal: 268 halaman

Rating: 3.5/5


Konon di masa depan nanti, sekitar tahun A. F. 632 (kurang lebih sekitar tahun 2540 Masehi-berdasarkan hasil googling) manusia tidak lagi dilahirkan dari rahim seorang ibu. Ia diciptakan dalam botol dan melewati sebuah proses bernama Bokanovsky. Manusia diciptakan dengan pengkondisian khusus oleh Kontrolir Dunia dan dibagi ke dalam beberapa kasta bernama Alpha dan Beta sebagai kasta tertinggi, kemudian Gama, Delta dan Epsilon sebagai kasta rendah dengan tujuan terciptanya kestabilan sosial dan peradaban modern ideal.

Tapi yang namanya manusia tetaplah manusia. Tempatnya khilaf dan salah.

Adalah Bernard Marx. Dia adalah anomali diantara semua manusia modern kebanyakan. Dia adalah seorang Alpha yang “cacat” yang diakibatkan oleh alkohol dan magnesium yang tercampur tidak sesuai takaran saat proses pembuahan dalam botol. Pengkondisian tidak menjadikannya manusia yang menerima nasib sesuai kastanya. Bernard mempunyai banyak pertanyaan dan kejanggalan akan hidupnya dan mendambakan kemerdekaan.

“Kebahagiaan susah dikuasai–terutama kebahagiaan orang lain. Lebih susah lagi, jika seseorang tidak dikondisi untuk menerima kebahagiaan itu tanpa syarat, ketimbang kebenaran.” – Hlm. 231.

Bersama sahabatnya, Hemholtz Watson-yang juga tidak seperti kebanyakan manusia lainnya, Bernard menuju sebuah Reservasi Liar, tempat peradaban kuno dan tak sempurna yang kemudian membawanya pada seorang yang masih percaya adanya Tuhan dan masih mempunyai Ibu. Ia adalah Si Liar yang kemudian Bernard percayai bisa menjadi kunci untuk mengguncang kestabilan dunia modern.

“Kau tidak bisa membuat mesin tanpa baja–dan kau tidak bisa membuat tragedi tanpa ketidakstabilan sosial.” Hlm. 223.

Novel ini menggambarkan masa depan yang cukup mengerikan. Masa dimana manusia modern tidak tahu Tuhan, tidak ada istilah ibu, ayah, anak, tidak ada hiburan selain mengkonsumsi Soma (sejenis narkoba), tidak ada pernikahan, tidak ada kesenian, tidak boleh baca cerita sejenis Romeo dan Juliet, dan sains hanyalah sekedar buku resep masak dengan satu teori masak ortodoks yang tak boleh dipertanyakan. Yang menarik dan saya harapkan ada di masa depan dari novel ini hanyalah taxicopter-nya alias taksi helikopter. Wkwk

“Tapi, aku tidak ingin kenyamanan. Aku ingin Tuhan, aku ingin puisi, aku ingin bahaya nyata, aku ingin kebebasan, aku ingin kebaikan, aku ingin dosa.”
“Dalam kenyataan,” kata Mustapha Mond, “kau mau mengklaim hak untuk merasa tidak bahagia.” – Hlm. 244.

Novel dystopian pertama yang saya baca dengan penuh kebingungan di awal karena banyak istilah yang saya tak paham dan thanks God… Google hadir sebagai penyelamat untuk tetap penasaran baca novel ini sampe tamat.

Salut luar biasa dengan Aldous Huxley atas karyanya yang satu ini. Buku ini terbit pertama kali di tahun 1932 dan terbit pertama di Indonesia tahun 2015.

Menurut The Guardian, “Dua Buku visioner pada paruh kedua abad ke-20 yang membayangi masa depan kita: 1984 (George Orwell) dan Brave New World.”

Abis ini, jadi ingin baca 1984!!!

 

Sejumlah Cerita: Linguae – Seno Gumira Ajidarma

IMG20180814102924-01

Judul buku: Linguae

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Desain Sampul: Sofnir Ali

Foto Sampul: Koleksi Pusat Dokumentasi Foto Jakarta-Jakarta

Setting: Ryan Pradana

Penerbit: P. T. Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2771-7

ISBN13: 978-979-22-2771-0

Terbit: Maret 2007

Tebal: 130 halaman

Rating: 3.5/5


“Mungkinkah aku membayangkan diriku sendiri untuk sebuah adegan yang tidak pernah ada?” Hlm. 52.

Jawaban saya adalah, mungkin!

Lewat Cermin Maneka, saya terbawa pada dunia di dalam sebuah cermin serupa dunia Narnia.

Lewat Cintaku Jauh di Komodo, saya membayangkan, apa jadinya jika kekasih kita berubah menjadi seekor komodo?

“Jika cinta memang mempersatukan jiwa, maka kesenjangan tubuh macam apakah yang akan bisa menghalanginya?” Hlm. 14.

Lewat Rembulan Dalam Cappuccino, saya dipertemukan dengan pasangan suami istri yang sudah bercerai dan berebut sebuah rembulan yang terdapat dalam secangkir kopi. Dan benar-benar rembulan beneran. Karena sejak bulan itu disajikan dan dibeli dari sebuah cafe, malam jadi kehilangan cahayanya.

Tiada rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya, siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak?

“Yang masih peduli hanyalah orang- orang romantis,” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri.

“Atau pura-pura romantis,” katanya lagi. Hlm 23.

Lewat Tong Setan, saya seakan dibawa kembali pada masa kecil dimana setiap ada Pasar Malam disitulah ada Tong Setan. Hebatnya, cerpen ini hanya butuh satu sampai dua kalimat dalam satu paragraf yang panjaaaaaang. Bapak SGA hebat sekali merangkai katanyaaaaaa…

Lewat Badak Kencana, saya dibawa ke Ujung Kulon menikmati kisah serupa mitos bahwa disana ada badak berkaki satu, yang akan melindungi populasi badak dari perburuan cula. Cerita ini seperti sekaligus mengingatkan kita akan populasi badak yang kian langka.

Lewat Linguae, saya dibawa pada kisah cinta yang absurd dimana cinta diuji lewat kepekaan lidah. Lalu, bagaimana jika lidah kita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ada?

“Cinta mungkin tidak perlu kata-kata tetapi aku tidak tahu bagaimana nasib cinta jika para pecinta kehilangan lidahnya?” Hlm. 59.

Lewat Joko Swiwi, saya dipertemukan dengan sesosok manusia yang lahir dari seorang Ibu yang pernah bekerja di luar negeri, tanpa kejelasan siapa bapak kandungnya dannnnnnn ia terlahir sebagai manusia serupa unggas karena mempunyai sepasang sayap. Agak aneh tapi lucu dan penuh pesan moral.

Lewat Simsalabim, saya mengbayangkan apa jadinya jika pesulap dianggap sebagai Tuhan oleh orang-orang yang putus asa pada nasibnya. Bukankah Tuhan sesungguhnya pun berfirman, Ia tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang mengubahnya?

Itulah beberapa cerpen yang saya suka dari 14 cerpen yang ada di Linguae. SGA berhasil membawa saya pada imajinasi yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan bisa dibilang, gila! Hahaa. Selain lucu dan manis, beberapa cerpen juga membawa pesan sosial yang gampang-gampang susah buat ditangkap yang disajikan dalam cerita yang absurd.

Tidak sabar untuk membaca buku SGA lainnya!!!


Ps:

Buku ini saya dapatkan dari seseorang di Medan sana. Terima kasih sudah berbagi buku dan menambah bahan koleksi kosakata saya. God bless you.