Novel Di Balik Kerling Saatirah – Niknik M. Kuntarto

IMG20180125170001-01

Judul buku: Di Balik Kerling Saatirah

Penulis: Niknik M. Kuntarto

Editor: Mira Rainayati, Anna Ervita Dewi

Perancang Sampul & Ilustrasi Isi: Michael Gumelar, Innerchild Studio

Penerbit: Grasindo

ISBN: 978-602-251-003-8

Terbit: 2010

Tebal: 204 halaman

Rating: 3.5/5


Novel ini menceritakan kisah “horror” kehidupan rumah tangga. Saya tak habis pikir, bagaimana bisa Saatirah kuat mengijinkan suaminya untuk bersama dengan perempuan lain. Demi kembalinya semangat suami dan demi menjaga keutuhan rumah tangga segala cara dilakukan Saatirah. Dan demi Emak (Ibu), yang selalu menasehatinya bahwa Saatirah adalah keturunan menak (priyayi) yang harus menjaga nama baik keluarga. Di tengah sakit hatinya, Saatirah pun hanya perempuan biasa. Di kala tak ia dapat lagi perhatian dan kasih sayang dari suaminya, ia pun tergoda untuk sama melakukan perselingkuhan dengan pria lain.

Waktu berjalan, rupanya suaminya telah dipelet oleh perempuan yang selama ini menjadi sekretarisnya. Dari sinilah, saya dibawa pada dunia perdukunan. Saatirah bertemu dengan keponakannya yang bernama Anyelir. Anyelir adalah “orang pintar”. Anyelir kemudian menjadi sandaran dan tempat Saatirah meminta pertolongan ketika Saatirah buntu tak tahu harus melakukan cara apalagi untuk mengobati suaminya.

Dari pertemuan Saatirah dan Anyelir cerita mulai berubah menjadi semakin horror dan Oh My God, sungguh ini bukan novel kisah cinta biasa. Novel ini telah membawa saya mengenal hal-hal perklenikan mulai dari ritual mandi kembang sampai ajian batu kecubung dari Nyi Roro Kidul. Dikhianati telah membuat Saatirah buta dan hanyut dalam dunia hitam itu. Saatirah melakukan banyak ritual yang sungguh membuat saya bertanya karena banyak ayat Al-Qur’an yang ia baca selama proses ritual ditambah dengan jangjawokan (mantra) yang kata-katanya sungguh aneh. Saatirah benar-benar tenggelam dalam ilmu hitam bahkan ia sampai mempromosikan Anyelir ke teman-teman, saudara bahkan ayahnya yang juga mempunyai masalah serupa. Subhanalloh. Kisah pilu pengkhianatan yang disajikan di novel ini tak hanya tentang Saatirah dan suaminya. Ada kisah lain yang menjadi pelengkap dan tetap bikin miris. Kalo orang sunda bilang, nyelekit dan bikin saya sebagai pembaca ingin bilang naudzubillah berkali-kali.

Nampaknya memang ilmu hitam tidak ada apa-apanya dibanding kuasa Tuhan. Segala upaya Saatirah pada akhirnya berujung pada perceraian. Dan di sinilah titik balik Saatirah yang kemudian menyadari bahwa tiada daya dan upaya kecuali atas kehendak-Nya. Pertanyaan atas segala dunia perdukunan dan ilmu hitam yang bersemayam di kepala saya terjawab di hampir akhir cerita lewat sosok ustadz yang ditemui Saatirah yang menjelaskan bagaimana dunia perdukunan dan ilmu hitam dari sisi agama.

Pelajaran penting dari novel ini adalah, serakah dan selingkuh itu engga baik. Benarlah jika godaan terbesar para lelaki adalah harta, tahta dan wanita. Jangan sampai karena cinta ditolak, dukun bertindak, hati tersakiti dukun yang atasi. JANGAN! Ada Alloh yang Maha Segalanya. 

Meski novel ini memakai bahasa yang baku saya bisa menikmatnya dengan khusyu. Ceritanya ditulis sangat rapih dengan sudut pandang orang pertama, bikin sakitnya Saatirah terasa njleb dan nyelekitnya sampai saya harus menarik nafas panjang berkali-kali. Novel ini benar-benar menyajikan kisah rumah tangga yang sebenarnya bikin saya mikir berkali-kali bahkan hampir takut dengan yang namanya rumah tangga. Sungguh “horror” sekali kisah rumah tangga yang ada di novel ini. Pengkhianatan, KDRT, masalah ekonomi dan sebagainya menjadi bagian dari cerita yang kemudian membuat saya juga bertanya, siapa dan apa itu cinta sejati?

Novel ini juga bikin saya mau mudik ke kampung halaman. Karena selain mengambil latar di Jabodetabek. Novel ini membawa saya bernostalgia pada kampung halaman saya di Kabupaten Majalengka pada tahun 90an. Keindahan sawah dan jalanan Majalengka yang kala itu masih identik dengan sebutan “Kota Senja” dan “Kota Pensiun”-nya membuat saya rindu pada Majalengka yang sunyi yang bahkan belum punya Toko Serba Ada seperti sekarang.

Dari awal Saatirah sudah membuat saya gemasssssh. Sampai akhir, bersiap saja dengan ending yang membuat pembaca akan bertanya-tanya kembali tentang kesetiaannya. Saatirah, sebuah novel yang sudah membuat saya banyak istigfar dan mendapat banyak hikmah dan pelajaran tentang berumah tangga juga tentang dunia perdukunan. Haha.

Sekian tentang Novel Di Balik Kerling Saatirah. Maaf kalo terlalu banyak spoiler. 

Semoga bermanfaat.

Salam,

Yossi Fitriani, yang mau balik nguli.

 

Advertisements

HOPE: Para Pahlawan Pembawa Harapan – Endah Sulwesi & Kurnia Effendi

IMG20171229174444

Judul buku: Hope: Para Pahlawan Pembawa Harapan

Penulis: Endah Sulwesi dan Kurnia Effendi

Penerbit: Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-7888-14-2

Terbit: Februari 2013

Tebal: 178 halaman

Rating: 3,5/5


Siapa yang bisa menolak ketika hati sudah memanggil. Ketika hati merasa bahwa bersimpati saja tidak cukup. Ketika hati telah berhasil memerintahkan otak untuk berpikir dan berbuat sesuatu demi satu kebaikan.

Buku ini mempersembahkan tujuh kisah inspiratif yang membuka mata, menggugah jiwa, menajamkan nurani, dan membawa kesadaran bahwa hal baik itu masih ada dan nyata.

  1. Chanee Brule. Sebuah pengalaman di masa kecil bule asal Prancis ini telah menuntunnya untuk mengikuti kata hatinya. Ia dengan sukarela menghabiskan separuh hidupnya di Kalimantan demi menyelamatkan dan melestarikan hewan langka yang amat dicintainya, Owa-owa.  Di tengah maraknya penyalahgunaan lahan hutan untuk perkebunan sawit, ia berusaha untuk mengedukasi warga lokal agar melindungi hewan langka dan habitatnya.
  2. Dadang Heriadi. Bapak asal Tasik ini rela meninggalkan pekerjaannya di salah satu BUMN demi mengikuti panggilan hatinya untuk berjuang di Yayasan Keris Nangtung yang ia dirikan-yang fokus merawat orang-orang dengan gangguan jiwa yang ia selamatkan dari jalanan. Kisah yang sungguh mengagumkan! Bagi saya Pak Dadang adalah contoh nyata seorang yang telah benar meyakini bahwa segala yang di dunia ini hanyalah titipan dari-Nya. Kekayaan, jabatan dan popularitas kini sudah bukan lagi prioritas utamanya. Ini salah satu kisah yang membuat saya malu pada diri sendiri. Saya bertanya dan merenung, pernahkah bahkan saya merasa kasihan melihat orang gila yang terlantar di jalanan? :'((((
  3. Fauzanah. Pendiri Puskesmas Matematika ini bilang, “Siapa yang tidak bisa matematika maka ia sakit.” Bu Yan adalah guru yang sudah pensiun tapi masih semangat mengajar matematika di sekolah tempatnya mengajar. Ia bahkan sampai menyediakan semacam “rawat inap” bagi muridnya yang tidak bisa matematika. Ia tidak mematok biaya bagi siswa yang kurang mampu. Jasanya telah membawa beberapa siswa berprestasi dan menggapai mimpinya untuk masuk ke perguruan tinggi impian.
  4. Deradjat Ginandjar Koesmayadi. Ginan begitulah ia disapa. Ia adalah penderita HIV/AIDS yang bangkit dari masa terpuruknya dan berhasil mendirikan Rumah Cemara, sebuah tempat dimana mantan pecandu narkoba berkumpul dan berusaha untuk menyosialisasikan bahaya narkoba dan HIV/AIDS pada masyarakat. Ia juga membuat sebuah tim sepak bola sebagai bagian dari sosialisasi HIV/AIDS. Ini bukan tim sepakbola biasa. Tim sepak bolanya bahkan sudah sampai ke Homeless World Cup Street Soccer Competition di Paris, Prancis.
  5. Iriana Among Praja. Ia adalah seorang dokter yang rela berjuang menjadi guru bagi anak pemulung di daerah Bekasi. Ia mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama “Sekolah Kami”. Meski sempat beberapa kali digusur dan harus berpindah-pindah tempat, ia tetap semangat menyalakan pelita bagi anak pemulung yang kurang beruntung. Ia mempunyai mimpi agar kelak anak-anak pemulung ini bisa mandiri dan punya hidup yang lebih baik.
  6. Irma Suryati. Polio tidak menghalanginya untuk tetap berkarya dan bermanfaat bagi orang banyak. Setelah kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, semangatnya tetap mendorong ia untuk tetap berkreasi. Ia berhasil membuka usaha sendiri dan terus berkembang. Bersama suaminya, Ibu 5 anak ini berhasil mengajak orang-orang dengan cacat fisik, ibu-ibu, waria bahkan PSK untuk punya pekerjaan yang lebih baik dan bisa berkarya.
  7. Sinta Ridwan. Ia adalah seorang yang menekuni filologi. Ia memutuskan untuk hidup bahagia meski penyakit lupus menggerogoti tubuhnya. Ia adalah pejuang pelestarian aksara kuno yang juga suka mengajar aksara kuno dengan sukarela. Selain itu, ia juga adalah seorang penulis yang telah menerbitkan beberapa buku.

Ke tujuh orang di atas adalah contoh nyata bahwa masih ada orang yang rela berbuat baik tanpa haus dipuji atau tersorot kamera. Terpujilah Bapak, Ibu dan Kakak-kakak yang telah rela berjuang demi kebaikan anak cucu kelak. Jasamu abadi!

Membaca buku ini di kala sedang merasa hampir putus asa sungguh adalah obat. Kisah yang meredakan si putus asa dan berhasil membuat malu pada diri sendiri. Masihkah akan banyak mengeluh dan tidak bersyukur? Pekalah.

Semoga bermanfaat.

Salam penuh cinta,

Yossi Fitriani, dan secangkir cokelat hangat.

Changing Impossible to I’mpossible – Victor Setiawan Taslim

IMG20171225153644

Judul buku: Changing Impossible to I’mpossible

Penulis: Victor Setiawan Taslim

Bahasa: Inggris

Ilustrasi Isi: Inez Tiara

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-6953-6

Terbit: Juni 2011

Tebal: 156 halaman

Rating: 3/5


Buku ini adalah buku berbahasa Inggris satu-satunya yang saya baca di tahun kemarin. Alasan buku ini dibeli juga tadinya buat belajar reading dan karena emang DISKON (IDR 25K dapet 3 buku. Jelas engga nolaklah! Wkwk) #akucintadiskonan sebab #diskonadalahkoentji. Uhuy!

Jadi buku ini tentang apa sih?

Dari judulnya mungkin udah ketebak kalo ini adalah semacam buku motivasi. Yap. Betul sekali! Buku ini ditulis oleh seorang yang sebaya usianya dengan saya dan ditulis ketika ia masih berusia 18 tahun. Well, usia 18 kayanya saya belum menghasilkan apa-apa yang berarti dalam hidup, pun sampai hari ini. Huft.

Buku ini berisi pengalaman penulis ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa (ASEAN Scholarship) demi melanjutkan SMA-nya di Singapura. Saya salut karena di usia remajanya penulis sangat apik dalam melakukan manajemen waktu dan membuat strategi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Ia tak hanya berprestasi di sekolah tapi juga berprestasi sebagai atlet. Dan kini kabarnya, dari hasil saya googling-googling, penulis kece ini sedang menempuh kuliah di salah satu universitas di Inggris. *Huoooo calon cowok idaman syekaliiiiii…* *minta disleding* *fokus oyy!*

Jalan yang ditempuh penulis tentu tidak selalu mudah dan tidak selalu mulus. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi, bahkan penulis juga sempat gagal sebelum akhirnya berhasil mendapat apa yang ia inginkan. Ia menanamkan pada dirinya agar selalu berpikir positif dalam menghadapi apapun yang sedang terjadi. Sedih boleh, marah boleh, kecewa boleh, asal tidak berlebihan dan tetap punya kekuatan untuk bangkit. Victor telah mendapatkan buah dari kebiasaan berpikir positif yang ia tanam. Ia adalah remaja sukses yang sangat layak dijadikan panutan.

Selain menanamkan untuk selalu berpikir positif, di sini penulis juga membagikan kiat-kiat lainnya dalam menggapai mimpi, seperti judul dari buku ini, penulis membagikan bagaimana caranya mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Penulis juga bercerita tentang bagaimana kedua orangtuanya mendidik dan membimbing penulis dengan sangat bijak dan penuh kasih sayang. Banyak kisah kehidupan penulis dan orang tuanya yang kaya akan nasehat baik sehingga membuat buku ini tak hanya cocok untuk remaja tapi juga sangat cocok untuk dibaca orangtua sebagai panduan untuk parenting.

Jujur, buku ini engga saya banget. Baca buku ini, saya ngerasa kebiasaan penulis dan saya amatlah jomplang. Tapi alhamdulillah ada pelajaran yang bisa saya petik dan saya bagi, dan yang paling penting lagi, alhamdulillah tamat juga bacanya.

Salah satu hikmah dan pelajaran penting yang saya dapet adalah: Saya jadi tau kalo reading skill saya sangat payah. Ambyarrrrrr sekaliiiiiiiiiii. Capek bolak balik buka kamus. Tapi alhamdulillah bisa nambah vocab. Hihii.

Eiya, di buku ini juga ada tips buat reading yang sangat bisa diaplikasikan. Nice!

Untuk para remaja SMP-SMA yang mungkin sedang galau di luar sana, kiranya buku ini bisa membantu membuka pikiran dan membuka jalan untuk masa depan yang lebih bahagia. Inget, jalannya baru kebuka kalo bukunya di baca ya! Inget juga, buku itu emang jendela dunia, tapi kalo jendelanya engga dibuka, ya ga bisa liat dunianya kaya gimana. Jadi, bacalah!

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Yossi Fitriani, yang sedang mengkhayalkan masa depan.

 

Membaca Buku itu Menyenangkan. Kenapa?

jk-rowling-on-reading

Berawal dari sebuah buku Ensiklopedia Flora dan Fauna milik Mamah yang mengisi masa kecil saya, dari situlah saya jatuh cinta dengan membaca. Entah kenapa buku itu masih sangat melekat dalam ingatan. Buku yang membawa saya bersafari ke hutan dan padang rumput bertemu hewan yang bahkan belum pernah saya temui.

Buku itu menarik. Terlebih karena foto yang disajikan sungguh memanjakan mata. Saya baca keterangan yang ada mengenai hewan-hewan yang ada di buku itu dan membuat saya semakin merasa sedang berpetualang di sebuah hutan. Ah ya, waktu itu sedang ramai tren sewa VCD. Bapak saya membawakan saya VCD The Lion King, jadilah saya setelah menonton film tersebut yang sungguh membuat saya jatuh cinta dengan filmnya, saya mencari hewan yang ada di film tersebut di buku Ensiklopedia Flora dan Fauna tadi. Dan ketika saya menemukan hewan yang ada di The Lion King di buku tersebut, seketika saya merasa mendapat pencerahan. Ada sesuatu yang baru lagi di kepala saya. Ada sesuatu yang kembali membawa saya berkhayal dan berpetualang. Dan, inilah salah satu alasan mengapa saya senang membaca buku.

Yang saya rasakan ketika membaca buku adalah,

  • Reading brings joy. Ketika saya membaca, saya merasakan keintiman saya dengan dunia yang ada di kepala saya. Perlahan saya bisa melupakan sejenak hiruk-pikuk kehidupan dan segala kesibukan yang telah menyita waktu dan energi. Ketika insomnia saya datang, membaca adalah salah satu yang membuat saya bisa tidur dengan mudah. Bukan karena buku yang saya baca itu membosankan. Semua itu karena membaca telah membawa saya pada keadaan relax dan nyaman. Membaca adalah semacam proses healing dan sesuatu yang menjauhkan saya dari stress. Membaca adalah salah satu hal yang bisa bikin saya tetap waras.
  • Discover, Time Travel. Membaca telah membawa saya berpetualang entah itu ke masa lampau atau ke masa yang akan datang. Membaca buku dengan setting hari-hari yang telah lalu membuat saya berpetualang ke masa yang bahkan belum pernah saya alami. Latar lokasi yang menjadi bagian dari cerita juga telah membawa saya berpetualang ke banyak tempat yang belum pernah saya kunjungi. Saya bisa membayangkan bagaimana Bandung di Tahun 1990 seperti apa ketika saya membaca Dilan – Pidi Baiq. Saya bisa merasakan badai pasir dan panasnya Mesir ketika saya membaca Ayat-ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy. Saya bisa merasakan kembali serunya jadi anak SMA ketika membaca novel TeenLit. Saya bahkan bisa membayangkan bagaimana jika saya berprofesi sebagai penulis, banker, arsitek, pengacara dan lain sebagainya ketika saya membaca novel dewasa.
  • Learn Something New. Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah cara kita untuk membuka jendela dan melihat dunia tersebut. Membaca sudah jelas akan membawa kita pada sesuatu yang baru, ilmu baru, kata-kata baru, cara pandang yang baru dan apapun itu yang akan membukakan mata, hati dan kepala kita pada hal-hal yang baru. Membaca itu mengayakan. Seorang teman pernah bilang, membaca itu juga adalah sebagai sarana untuk menutrisi otak. Dan that’s totally right!

Itulah beberapa hal yang saya rasakan ketika saya membaca buku. Cukup menyenangkan bukan?

Quotefancy-358088-3840x2160

Semoga yang belum suka baca buku, bisa tertular virus membaca dari postingan ini ya! Haha

Semoga bermanfaat.

Selamat menghabiskan akhir pekan.

Salam,

Yossi Fitriani, yang hari Sabtu engga libur kerja.


Sumber Gambar:
https://inbetweenbookpages.wordpress.com/tag/j-k-rowling/
https://quotefancy.com/quote/8368/J-K-Rowling-If-you-don-t-like-to-read-you-haven-t-found-the-right-book

22 Buku yang Menemani Saya di 2017

5ab3b3dbd2ddf6061595946e59e52422--stuff-to-buy-feelings

Well, setelah tjurhad panjang saya yang sungguh sangat Less-Faedah tentang kegagalan membaca 30 Buku di 2017. Sekarang saya mau share buku apa saja yang sudah menemani saya selama setahun kemarin. Cekidot!


  • Dear Nathan – Erisca Febriani

  • Sweet Karma – Ayudewi

  • Kopi Sumatera di Amerika – Yusran Darmawan

  • Mencoba Sukses – Adhitya Mulya

  • Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life and Loss – Melanie Subono

  • 99 Untuk Tuhanku – Emha Ainun Nadjib

  • Sentilan Kosmopolitan – Mujiburrahman

  • Diary Gue, Diary Lo – Melanie Subono

  • Time Is More Valuable Than Money; Dampak Transportasi pada Hidup Kita – Yoris Sebastian



  •  Peyempuan – @peyemp

  • Good Fight – Christian Simamora

  • Intertwine – FLOCK (Fei, Lia Indra Andriana, Orizuka, Clara Canceriana, KP Januwarsi)

  • The Truth About Forever – Orizuka

  •  Asbun Manfaatulngawur – Pidi Baiq

  • Tears in Heaven – Angelia Caroline

  •  Tuhan Maha Asyik – Sujiwo Tejo & DR. MN Kamba

  • Para Bajingan yang Menyenangkan – Puthut EA



Demikianlah daftar ke 22 buku yang sudah mengajak saya bepetualang ke berbagai ruang dan waktu. Genre-nya random sekali karena saya emang baca apa saja yang sedang ingin saya baca. Hehe…

  • Buku Terfavorit: Eat Play Leave – Jenny Jusuf
  • Buku Terkocak: Para Bajingan yang Menyenangkan – Puthut EA
  • Buku Paling Cepet Tamat Dibaca: Diary Gue, Diary Lo – Melanie Subono
  • Buku Paling Lama Tamat Dibaca: Changing Impossible to I’mpossible – Victor Setiawan Taslim
  • Buku Paling Bikin Baper: The Truth About Forever – Orizuka
  • Buku Paling Bikin Kesel: Dear Nathan – Erisca Febriani

Semoga buku yang belum sempat saya ulas, bisa saya ulas di blog ini juga. Sementara, ulasan singkatnya bisa dilihat di instagram pribadi saya.

Semoga bermanfaat.

Tabik.

Yossi Fitriani, yang masih ingin liburan.


Sumber Gambar:

https://www.instagram.com/yossifitriani/