Eat Play Leave – Jenny Jusuf

IMG20171008151853.jpg

Judul buku: Eat Play Leave: Kisah Bule – Bule Bali

Penulis: Jenny Jusuf

Editor: Nurjannah Intan

Perancang Sampul: Upit Dyoni

Ilustrasi Isi: Upit Dyoni

Penerbit: B First – PT Bentang Pustaka

ISBN: 978-602-1246-06-1

Terbit: Mei 2014

Tebal: 260 halaman

Rating: 4/5


Blurb

“Bali is a melting pot. Bukan hanya soal kewarganegaraan, tapi semua jenis orang bisa kamu temui di sini.”

***

Berbekal dua buah koper besar dan tekad menggunung, Jenny Jusuf resmi meninggalkan keriuhan kota Metropolitan dan memilih untuk menyepi di Ubud. Awalnya, ia mengira kesunyian Ubud akan menjadi sahabatnya. Nyatanya tidak! Alih-alih menikmati sepi, Jenny harus terus beradaptasi demi menemui orang-orang asing yang tingkah lakunya aneh bin ajaib.

Perempuan-perempuan lajang berkulit putih melamun dengan buku Eat Pray Love di pangkuan. Para lelaki setengah baya yang menganggap diri mereka sepupu jauh Brad Pitt, berusaha menarik perhatian perempuan Asia eksotis berkulit halus. Bule-bule berkaus lengan buntung dengan simbol yoga mentereng berseliweran sambil bertelanjang kaki. Hingga orang-orang asing yang berstatus menumpang, tetapi jauh dari ramah dan kerap menantang kesabaran.

Aha, Welcome to Bali 🙂


Review

Buku ini adalah salah satu buku yang saya bawa pulang dari Jabar Book Fair 2017 di Landmark – Braga, Bandung. Entah kenapa saat itu saya sedang tertarik membaca buku lifestyle atau kumpulan cerita dan memilih mengenyampingkan dulu hasrat untuk membeli novel romance seperti biasanya.

Buku ini menjadi buku ke 12 yang saya baca di tahun ini. Beres dibaca kira-kira sekitar bulan Oktober lalu. Sebelum saya menulis kesan-kesan saya di-blog-yang-aduh-maaf-rajin-dianggurin ini, saya menulis kesan singkat dari buku yang saya baca di akun instagram dan seringnya saya post di instagram dulu sebelum bercuap-cuap disini. Kali ini, mari disimak kesan-kesan saya setelah membaca kisah perjalanan Jenny Jusuf dalam Eat Play Leave. Cusssss ~

Whatever will be, will be. Apapun yang terjadi, terjadilah. – Hlm. 43

Keinginan dan harapan memang tak selalu sesuai dengan kenyataan. Keinginan penulis yang ingin menyepi dan rehat dari kebisingan Kota Jakarta malah membawanya pada situasi dimana ia harus belajar lebih sabar dalam menghadapi kelakuan bule-bule yang ditemuinya.

Ada Feza yang berasal dari Turki dan Keroppi yang (juga dari Turki, tapi) ngakunya dari Spanyol. Mereka adalah backpackers yang Jenny kenal dari Coachsurfing, sebuah situs jejaring sosial yang memungkinkan kita untuk menumpang atau memberi tumpangan tempat tinggal untuk backpacker. Mereka nyebelinnya parah. Satu bau ketek dan jarang mandi, satunya lagi bau kaki. Zzzzzz kebayang betapa sabarnya penulis saat harus menampung mereka berdua yang betah tinggal di kostannya. Subhanalloh pokoknya.

Hidup itu berputar dan warna-warni. Engga selamanya juga ketemu orang yang nyebelin. Beruntung, Jenny punya sahabat luar biasa yang mengingatkannya akan matahari di serial Teletubbies. Dia adalah Isabella. Bule yang lahir dan besar di Amerika, menghabiskan separuh hidupnya di Eropa dan sekarang tinggal di Bali. Isabella banyak memberi pencerahan dan pelajaran perihal menghindari obat-obat kimia dan lebih memilih apa-apa yang serba alami. Selain itu, kebaikan hati dan caranya menjalani hidup juga patut banget buat dicontoh.

Sahabat: seseorang yang punya akses tak terbatas untuk menghubungi kita kapan saja, dimana saja. (Hlm. 74)

 

When I lose faith and can no longer count my blessings, I count my best friends. It’s true. (Hlm. 75)

Selanjutnya ada bule-bule dengan berbagai kisah cintanya di Bali. Semenjak Bali dijadikan lokasi syuting Eat Pray Love, Ubud seakan punya magnet untuk menarik wisatawan dengan niat untuk mencari cinta di Bali. Ada Amandine dan June yang pada akhirnya malah patah hati, ada juga Pak Josh yang cinta sekali Indonesia dengan perjuangan cintanya yang luar biasa sampai akhirnya punya istri orang Indonesia. Ada juga kisah cinta Vidal, Ben & Julia, juga Cassie. Kisah cinta yang dihadirkan di buku ini tak hanya membawa kita hanyut, meleleh dan mengharu biru, banyak kata-kata quotable nan berfaedah yang bikin hati jadi adem, ayem, tentrem.

Lucu rasanya, betapa patriotisme justru bisa timbul setelah bergaul dengan orang-orang asing, yang terang kulitnya berbeda, bola matanya tak sewarna, yang di nadinya tak mengalir darah Indonesia, tetapi punya cinta yang sama. (Hlm. 84)

 

Barangkali gue hanya ingin percaya. Bahwa suatu saat nanti kami akan menemukan cinta lagi. Dan, kali ini, cinta datang untuk menetap. (Hlm. 91)

 

Harapan bahkan ada dalam patah hati, yang sejatinya membukapeluang bagi cinta-cinta berikutnya. (Hlm. 93)

 

Kalau Gusti setia dengan falsafah gunungnya, gue memegang teguh prinsip jelangkung: jodoh akan datang tanpa diundang. (Hlm.97)

 

Kebahagiaan sesederhana memilih dan menerima bahwa hidup tetap indah sekalipun ia tidak sempurna. Sendiri atau bersama orang yang dicinta. (Hal. 106)

Satu lagi cerita favorit saya di buku ini adalah kisah sahabat Jenny yang bernama Cisco. Cisco hadir mengisi beberapa chapter di buku ini. Cisco adalah cowok yang hanya ingin menikmati hidup di setiap harinya. Dan cuma dia yang Jenny kenal, orang yang berumur dibawah tiga puluh tahun yang bisa dengan mantap berkata, “Kalau gue mati besok, gue akan pergi dengan bahagia.”

Banyak kisah menarik lainnya yang hadir menjadi bagian dari total 14 chapter yang buku ini sajikan. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa ilustrasi yang menggambarkan Jenny dan para bule dengan porsi yang pas dan lucu.

Buku ini tak hanya membawa saya seakan sedang menikmati indahnya Ubud, tapi juga memberikan banyak pelajaran hidup. Setiap cerita yang dibawakan Jenny Jusuf, memberikan pencerahan dan punya hikmah masing-masing. Saya suka gaya menulis Jenny Jusuf yang ngalir dan berhasil membuat saya ngerasa lagi dengerin Jenny Jusuf bercerita dan lupa kalo saya ini lagi baca bukunya.

Kiranya, kisah bule yang dituangkan kurang banyak. Saya masih ingin mendengar cerita-cerita lainnya. Semoga Jenny Jusuf yang sekarang masih menetap di Bali bisa mengeluarkan buku terbarunya lagi. Walau bukan tentang bule lagi, saya akan dengan senang hati menanti lalu membacanya.

Pesan moral: Bule juga manusia.

Semoga bemanfaat.

Semoga saya makin rajin nulis.

Dan,

Terima kasih yang sudah baca.

 

Tons of Love,

Yossi Fitrianiyang sedang halu ingin liburan ke Bali.

Advertisements

Show Must Go On – Soni Marti Lova

IMG20170914160922.jpg

Judul buku: Show Must Go On: Norak-Norak Bergembira di Balik Layar Kaca

Penulis: Soni Marti Lova

Penerbit: Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-0622-2

Terbit: Juli 2011

Tebal: 408 halaman

Rating: 3.5/5


Blurb

Mbak Mala selaku Senior Creative gue dari panggung kasih komando, “Son, tolong panggilin Della Puspita, ya.”

Walaupun gue nggak tahu seperti apa wajahnya Della Puspita, dengan percaya diri gue jawab, “Oke Mbak.”

Setelah itu, gue langsung masuk ke ruang artis. Dengan wajah bingung, gue celingak-celinguk lihat kiri-kanan, berharap ada clue atau tanda apalah buat memudahkan gue nyari Della Puspita yang mana. Soalnya, di rundown ada dua nama yang mirip, Della Puspita sama Della Citra. Lalu, di depan gue ada make up artis yang lagi dandanin salah satu artis ngomong, “Mbak Della, rambutnya dirapiin nanti aja ya kalau sudah kelar rehearse.” Artis yang dia panggil “Mbak Della” itu hanya manggut.

Tanpa pikir panjang gue langsung bilang sama mbak tersebut dengan suara lantang, “Mbak Della Puspita, sekarang kita latihan, yuk.” Sontak, mbak yang gue panggil langsung melihat gue dengan wajah bingung. Gue negasin lagi, “Iya Mbak, udah disuruh rehearse.”

Tiba-tiba, di samping gue berdiri seorang artis cantik dan bilang sama gue, “Mas, saya Della Puspita. Saya yang duluan ya buat rehearse.”


Review

Blurb di atas adalah salah satu kekonyolan yang terjadi di balik layar kaca di kala Soni Marti Lova masih menjadi seorang Creative di salah satu stasiun TV swasta yang kini namanya sudah berkibar ke seluruh penjuru Indonesia.

Soni membawakan kisah suka duka perjuangannya dari sebelum ia menjadi seorang creative sampai ia harus memutuskan resign dan pergi menetap mendampingi istri dan keluarganya di Korea Selatan. Pengalaman-pengalaman yang ia rasakan selama menjadi creative, ia tuangkan komplit dengan bumbu kocak, norak, sampai kisah mengharu-biru juga ada di buku ini.

Hidup memang tak lepas dari drama. Sebagai seorang creative pun Soni harus melewati banyak drama demi terciptanya acara yang berkualitas dan mendapatkan tempat di hati para pemirsa. Ada program yang didrop, perseteruan dengan beberapa artis, dapet “surat cinta” dari KPI, susahnya mencari bintang tamu; seperti ketika saat Soni harus mencari Mak Erot ke Sukabumi dan ketika berusaha mengundang Ibu Berkawat dari Sangatta, Kalimantan Timur. Bagi saya yang hanya seorang buruh pabrik, saya terkagum dengan tugas para creative yang dituntut harus selalu punya ide dan inovasi agar program televisi yang diusung bisa tetap berumur panjang. Amazing!

Buku ini membawa saya terkenang akan beberapa acara favorit di masa itu. Masa ketika Extravaganza adalah tontonan wajib saya, masa adanya program Cilapop yang bikin hari saya diwarnai lagu Jadikan Aku yang Kedua-nya Astrid, masa awal-awal lahirnya acara lawak terheboh sepanjang abad; Opera Van Java, masa Bunda Dorce masih sering muncul di TV dengan acaranya Dorce Show, dan masa dimana Bukan Empat Mata masih bernama Empat Mata. And you know what guys? Penulis adalah orang yang sangat berjasa dibalik semua program kece tersebut. *big applause*

Buku ini sangat cocok untuk dijadikan “kitab” bagi temen-temen yang sedang/akan memasuki dunia broadcasting. Di akhir buku penulis juga menyisipkan glossary dan lampiran-lampiran seperti script dan rundown acara yang pastinya membantu sekali, khususnya untuk orang awam seperti saya, yang jadi tahu istilah-istilah di dunia pertelevisian.

Habis baca buku ini, saya juga jadi berpikiran sama dengan penulis. Tanpa creative apalah jadinya artis-artis terkenal di layar kaca itu. Abadilah jasa para creative yang telah membantu kesuksesan para artis. Jasamu abadi!

Kiranya, sekian dulu review kali ini.

Semoga bermanfaat.

Cheers,

Yossi Fitriani, yang sedang malas makan ke kantin pabrik.

Novel Athirah – Alberthiene Endah

Sight_2017_01_15_185225_854

Judul buku: Athirah

Penulis: Albethiene Endah

Penerbit: Noura Books

ISBN: 978-602-78-1667-1

Terbit: Cetakan Pertama-Desember 2013, Edisi Cover Film-Agustus 2016

Tebal: 400 halaman

Rating: 4/5


Blurb

“Apakah ini artinya Emma kalah, Jusuf?”
Pertanyaan Emma menusuk batinku. Aku pilu. Mata bening Emma basah.
Angin sore mendadak terasa sangat dingin.
Cahaya matahari dari barat jatuh di wajah Emma. Dukanya semakin terlihat.

Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu.
Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu.
Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu.
Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri.
Emma adalah perjalanan keberanian. Ada sosok yang kokoh dalam dirinya yang bertumpu.
Maka, kini, aku akan bercerita tentang dia, ibuku.
Emma-ku, Athirah.
Perempuan indah yang mengajarkan aku tentang hidup.


Review

-Di balik kesuksesan seseorang, selalu ada perjuangan berat yang tak hanya menguras keringat, tapi juga air mata.- (Cisirung, Desember 2017)

Buku ini membawa saya tenggelam ke dalam kisah perjuangan seorang ibu yang luar biasa. Seorang perempuan yang ketangguhan dan kelembutan hatinya patut dijadikan panutan oleh perempuan manapun. Seorang perempuan yang telah berhasil menghantarkan anaknya sukses menjadi pengusaha terpandang di negeri ini dan telah menghantarkannya dua kali menjabat sebagai wakil president Republik Indonesia. Ibu itu adalah Athirah, Ibunda dari Bapak Jusuf Kalla.

Athirah seperti menjadi cerita komplit tentang perjuangan seorang perempuan. Ia harus rela menerima dengan lapang dada akan kenyataan bahwa suaminya telah melabuhkan hati pada perempuan lain. Athirah menunjukan ketegarannya dengan tetap mendidik anak-anaknya dengan kasih. Walau sakit akan kisah rumah tangganya yang tak berjalan mulus dan harus merelakan suaminya yang lebih memilih tinggal bersama istri barunya, ia tak pernah sedikitpun berusaha menunjukan kesedihannya. Ia tetap berjuang dan bahkan semua itu seolah tak ia rasa lagi ketika ia fokus untuk membangun dan mengelola bisnis kain suteranya.

Kau telah mati jika tak lagi memberimu alasan untuk bersabar. – Hlm. 4

Bagi saya, Athirah adalah sosok perempuan cerdas yang visioner dan pekerja keras. Ilmu berbisnisnya sungguh luar biasa. Di balik rasa sakitnya, ia berhasil melebarkan bisnis kain sutera dengan pelanggan yang tersebar dimana-mana. Dari sinilah saya tahu dari mana ilmu berbisnis Jusuf Kalla berasal. Athirah telah mengajarkan Jusuf Kalla berbisnis sejak usia belia dengan mengajak Jusuf Kalla ikut berdagang, mencari kain, bahkan mengajarkannya strategi untuk mengelola uang di saat krisis ekonomi melanda. Jusuf Kalla juga belajar berbisnis dari ayahnya, Hadji Kalla. Ayahnya adalah pengusaha terpandang di Sulawesi Selatan.

Kehidupan yang berat itu berhasil dilalui hingga anak-anaknya beranjak dewasa. Di novel ini dituturkan pula bagaimana kehidupan percintaan Jusuf Kalla dengan Mufidah. Kisah cinta Athirah menjadi pelajaran bagi Jusuf Kalla untuk berhati-hati dalam urusan perempuan dan cinta. Kisah cinta Jusuf Kalla dan Mufidah menjadi bumbu yang menambah manis dengan humor yang pas. Melted ~

Inilah susahnya menghadapi kaum hawa. Kau tak akan mendapat jawaban ketika kau membutuhkan jawaban. Dan, kau diajak berputar dalam perjalanan rumit ketika kau bahkan tak melihat sesuatu yang rumit. – Hlm. 13

 

Laki-laki memang tak sepenuhnya bisa diyakini. Cinta yang sangat kuat dengan fondasi yang kukuh di awal tak menjamin munculnya kesetiaan yang abadi. Setiap perempuan boleh angkuh memutuskan kepada siapa cinta dan kepercayaan hendak diberikan. – Hlm. 219

Kisah di buku ini dituturkan dengan sangat apik dan manis oleh AE. Athirah telah memberikan banyak sekali pelajaran berharga tak hanya bagi Jusuf Kalla dan anak-anaknya yang lain. Kisahnya telah mampu menembus hati saya yang paling dalam. Sakitnya, perjuangannya, lembut kasihnya, saya bisa rasakan hingga saya pun tak sanggup menahan air mata saya ketika membacanya. Athirah adalah cerminan dari “galau berkelas” bagi seorang perempuan. Athirah, sosok perempuan tangguh panutan bagi perempuan-perempuan yang pernah disakiti hatinya.

Istri adalah nafas keluarga. Kau yang akan mengatur denyut nadi semangat keluargamu. Kau yang bisa menjaga emosi dan menciptakan damai di rumahmu. Kau yang akan menyeimbangi kesibukan suamimu dengan keindahan-keindahan yang bisa diciptakan perempuan di dalam rumah. Ketika seorang ibu menangis, ia menciptakan hujan badai di rumah. Ketika seorang ibu tersenyum, ia menciptakan berjuta suka cita. Jika ibu meledakkan hatinya, keluarga akan ikut meledak… – Hlm. 336

Teruntuk para lelaki yang entah punya niat atau tidak untuk berpoligami, kiranya buku ini bisa menjadi bahan bacaan yang menarik. Karena buku ini tak hanya menarik bagi seorang perempuan. Kisah dan pelajarannya bisa jadi panutan bagi semua orang.

Semoga bermanfaat.

Love,

Yossi Fitriani, yang sedang mencuri waktu.