Review Film – The Book Thief

book_thief_movieposter

Sinopsis
Setelah kematian adiknya dan kepergian ibunya, Liesel Meminger tinggal bersama orang tua asuhnya, Hans dan Rosa. Liesel pergi ke rumah tersebut dengan membawa sebuah buku yang dia ambil saat pemakaman adiknya. Sebuah buku yang tak pernah bisa ia baca sampai Hans menyadari bahwa Liesel tidak bisa membaca dan kemudian Hans mengajari Liesel membaca buku pertamanya, The Grave Digger’s Handbook. Kegemaran Liesel membaca membuatnya ingin memiliki buku lain. Liesel nekat mengambil buku sisa dari Upacara Pembakaran Buku oleh Nazi setelah upacara selesai. Liesel mencoba merahasiakan apa yang telah dia perbuat tapi akhirnya ayahnya mengetahuinya. Liesel meminta ayahnya untuk merahasiakan hal tersebut dan menginjinkan Liesel untuk membawa buku tersebut ke rumah.
Tahun 1938 terjadi peristiwa Malam Kaca Pecah (Kristallnacht/Night of Broken Glass) yang kemudian membuat Max Vandenburg yang seorang Yahudi harus melarikan diri dari rumahnya demi menghindari pembantaian dan menyelamatkan diri. Ia diminta oleh Ibunya untuk pergi menemui Hans, ayah Liesel yang merupakan sahabat ayah Max. Max berhasil sampai di rumah Hans dengan membawa sebuah buku yang berisi tentang Hitler. Max yang lemah dan sakit tetap memeluk bukunya selama tidur. Ia tidur sekamar dengan Liesel menempati tempat tidur yang seharusnya untuk adik Liesel yang sudah meninggal. Liesel mulai menikmati kehidupannya di rumah itu setelah kehadiran Max, ia menganggap Max sudah seperti saudaranya sendiri, namun Max tidak bisa selamanya bersembunyi di rumah itu di tengah Perang Dunia II yang mengancamnya. Max juga tidak ingin ikut mengancam keselamatan Liesel, Hans dan Rosa. Kehadiran Max melengkapi konflik yang terjadi di film ini. Film ini membawa cerita, sisi lain dari kependudukan Nazi dan Perang Dunia II yang terjadi kala itu. Buat cerita lengkapnya mah, tonton aja yaaaaaa … Biar rame! Wkwkwk.

Kesan dan Pesan
Entah sudah berapa kali saya menonton film ini. Sejak pertama nonton (lupa bulan apa, yang jelas baru saya tonton film ini di tahun 2016. Selalu yaaaa kudet. Maapkeun~) saya sudah mengulangnya beberapa kali dan terakhir ngulang nonton itu hari Minggu kemarin. Harusnya hari Sabtu saya ikut nonton bareng film ini di meet up mingguannya Fast Track Community namun karena beberapa hal saya tidak bisa hadir dan akhirnya memutuskan untuk kembali menontonnya di hari Minggu. Engga bosen. Sumfaaahhhh. Saya jatuh cinta dengan cerita, tokoh, kata-kata, akordeon bahkan wadrobes yang ada dalam film ini.
Yang unik dari film ini adalah narasinya yang dibawakan oleh Malaikat Maut (The Death). Apapun yang berkaitan dengan maut biasanya terkesan menyeramkan. Di film ini malaikat maut malah membawa kita pada cerita yang simpel dan manis walau berlatar Perang Dunia II dan kekejaman jaman Hitler saat masih berkuasa. Saya baru tahu kalau jaman Hitler itu dilarang ada buku. Kejaaaaaaammmmmmm. Saya buta sejarah. Dari film ini saya belajar sejarah dan bikin saya jadi banyak browsing soal Hitler, Nazi dan jaman-jaman perang.
Saya suka dengan tokoh-tokoh yang ada di film ini. Liesel adalah seorang gadis yang pemberani, tinggal bersama dengan Hans Hubberman, ayah angkatnya yang kalem dan berhati lembut dan ibu angkatnya Rosa, seorang ibu yang dimata Liesel terlihat ibarat badai, selalu bergemuruh namun sebenarnya Rosa hanya pintar menyembunyikan kebaikannya. Rudy Streiner seorang yang periang, sahabat baik Liesel yang senantiasa melindungi Liesel dan jatuh cinta pada Liesel. Cinta monyet diantara Rudy dan Liesel membuat film ini lucu, manis namun berakhir tragis. *ooopppssss spoiler*. Selanjutnya, Max Vandenburg, seorang Yahudi yang kemudian menjadi sahabat sekaligus keluarga bagi Liesel yang membuat Liesel akhirnya mencoba mulai menulis, menuangkan imajinasinya ke dalam kata-kata.

If your eyes could speak? What would they say? – Max Vandenburg

Rasanya tidak ada karakter yang tidak saya sukai dari film ini.
Porsi sejarah dengan tema yang dibawakan dalam film ini diracik dengan pas. Dua hal yang saling bertentangan, kekejaman dan keindahan menyatu menjadi cerita yang layak untuk dinikmati kalangan remaja dan orang tua dan tentunya menjadi cerita yang membawa pesan bermakna bagi penikmatnya. Beberapa yang bisa saya petik dari film ini diantaranya:

  • Semua yang Bernyawa akan Merasakan Mati

One small fact: you are going to die. Despite every effort, no one lives forever. Sorry to be such a spoiler. My advice is when the time comes, don’t panic. It doesn’t seem to help.- The Death

Itulah kata-kata yang disampaikan The Death pada saat film dimulai. Mengingatkan kita akan kematian yang sudah pasti akan datang walau entah kapan.

  • Keep Moving On
    Berlatar tentang kehidupan di kala Perang Dunia II, film ini menyuguhkan ketegaran warga Jerman yang tetap berusaha hidup sebaik mungkin di tengah kondisi keamanan yang tidak stabil. Bahwa hidup harus terus berjalan dan yang kita bisa lakukan adalah hadapi, hayati dan nikmati.
  • Realized that Humans Have the Capacity to be Resilient and Compassionate
    I got those words from Enotes after read some notes about The Book Thief and I couldn’t agree more. Max dan Liesel membuktikan bahwa kita bisa hidup berdampingan di tengah perbedaan agama, suku, ras dan lain sebagainya. Hans tetap menjunjung tinggi moral, kemanusiaan dan tetap menolong Max walaupun Max adalah seorang Yahudi. Liesel, Hans, Rosa, Max, Rudy dan yang lainnya tetap tangguh dalam menghadapi semuanya meski harus kelaparan dan serba kekurangan, hidup rukun dan penuh kasih sayang.
  • Badai Pasti Berlalu
    Setiap awal pasti mempunyai akhir, pun dengan keadaan buruk yang juga pasti akan berlalu. Setelah kekuasaan Nazi berakhir badai Perang Dunia II perlahan berlalu dan membuat Jerman perlahan damai meski masih diduduki oleh pasukan Amerika. Banyak kejutan yang terjadi setelah Perang Dunia II selesai dan tentunya menjadi ending yang bahagia dari film ini.

Menonton film ini sedikit membawa saya berkhayal akan kondisi di Palestina, Suriah dan negara yang sedang berkonflik lainnya. Tidak terbayang bagaimana rasanya jika harus tinggal di negara yang setiap hari dihantui ancaman bom, rudal dan tembakan ;'(. Mari luangkan waktu kita untuk mendoakan saudara-saudara sesama manusia di luar sana yang nasibnya tidak seberuntung kita. Semoga dunia ini lebih baik dan lebih damai :’)))
Akhir kata, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk menonton film ini. Highly Recommended! A must watch!

I have seen a great many things. I have attended all the world’s worst disasters, and worked for the greatest of villains. And I’ve seen the greatest wonders. But it’s still like I said it was: no one lives forever. – The Death

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s