Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah

wp_20161020_21_13_52_pro

Judul buku: Detik Terakhir

Judul lama: Jangan Beri Aku Narkoba

Penulis: Alberthiene Endah

Editor: Ikeu dan Donna

Desain sampul: eMTe

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2214-6

Terbit: April 2004

Tebal: 248 halaman

Penghargaan: Penghargaan Adikarya IKAPI (2007)

Rating: 4/5


Blurb & Sinopsis

“Narkoba telah menghancurkanmu….”

“Bukan. Bukan dia. Dia Cuma bubuk putih yang tahu bagaimana untuk bersiasat memberi penyelamatan dalam dunia yang begini kurang ajar.”

“Kamu menjadi rusak. Kamu menjadi celaka. Kamu menjadi lesbian. Semua karena narkoba.”

“Saya korban orang tua yang rusak. Saya korban akhlak mereka yang celaka. Tapi saya menjadi lesbian karena cinta itu memang ada. Hanya itu yang saya punya.”

“Kamu kalap. Kamu harus masuk panti.”

“Kenapa kalian hanya memikirkan saya dan narkoba? Kenapa kalian tidak pernah berpikir untuk membuat panti bagi orang-orang yang membuat saya celaka. Orang tua.”

Arimbi korban yang tak terelakkan dari kehidupan rumah tangga kaum jetset yang bobrok. Seperti kebanyakan remaja frustasi, ia dengan mudah mengenal narkoba dan dalam waktu singkat bersetubuh dengan bubuk melenakan itu. Kisah ini bercerita tentang proses psikologis seorang gadis muda melawan (atau melindungi dirinya dari) kehidupan yang sangat dia benci. Bagaimana ia berjuang mendapatkan kemenangan yang ia yakini dengan mencintai sesama perempuan. Bagaimana ia bergulat dalam proses pengenalan dirinya di tengah situasi yang bagi orang kebanyakan adalah proses tak sadar karena dipengaruhi narkoba.

Tapi Arimbi bukan korban klise dari jerat narkoba yang bisa diselesaikan dengan tindakan instan masa kini: detoksifikasi dan panti rehabilitasi. Ia, dengan sisa-sisa kesadaran dan rasa cintanya yang besar pada kekasihnya, Vela, berusaha melepaskan diri dari kehidupan yang ia benci sekaligus narkoba dengan suara hati yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Ironisnya, apa yang ia perjuangkan dipandang orang lain sebagai salah satu dampak buruk narkoba.

Kisah Arimbi merupakan gambaran kegagalan orangtua masa kini (dan institusi pemberantasan narkoba) dalam menyelesaikan kasus-kasus narkoba. Ada begitu banyak mantan pecandu yang masih bergulat dengan persoalan-persoalan yang belum selesai.

Review

Novel ini pertama kali terbit 12 tahun yang lalu dengan judul “Jangan Beri Aku Narkoba”. Kemudian terbit lagi dengan judul yang berganti menjadi “Detik Terakhir” di tahun 2006. 10 tahun kemudian saya baru berkesempatan membaca buku ini. Lagi pula di tahun 2004 atau 2006 saya belum cukup umur untuk membaca novel ini. He he hehe.

Saya temukan buku ini ketika berburu buku diskon di Toko Buku Toga Mas Buah Batu. Harganya Rp. 15.000 saja. Namun membacanya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai harganya.

Saya jadi teringat akan kata-kata Agnes Monica saat menjadi bintang tamu di Kick Andy, Metro TV. Agnes waktu itu bilang,

“Lu ga perlu nyobain tai buat tahu tai itu engga enak.”

Kurang lebih begitu pengandaian Agnes soal narkoba. Dan 100! Saya amat sangat setuju dengan pendapat Agnes tersebut. Dari novel ini saya tahu, bahwa narkoba memang tidak pantas untuk dijadikan sebagai pelarian. Narkoba bukanlah penyelesaian atas masalah-masalah yang kita hadapi.

“Ia tidak akan memberimu apa-apa dan tidak akan menjadikanmu siapa-siapa, dia bahkan akan membuatmu kenapa-kenapa di dunia yang memberi begini banyak kesempatan.”

So, Narkoba, it’s a SUPER BIG NO NO! Say NO to drugs! Narkoba NO WAY!

Novel ini diawali dengan prolog seorang wartawan. Disini penulis menempatkan dirinya sebagai wartawan yang ingin menemui Arimbi, mantan pecandu narkoba, anak orang kaya yang terpandang, berasal  dari keluarga yang cacat namun sering terlihat harmonis diluar. Wartawan tersebut ingin menemui Arimbi atas permintaan Rajib, mantan pengedar narkoba yang terpaksa jadi pengedar karena kemiskinan, dan kini sedang menjalani sisa masa tahanan di balik jeruji besi. Rajib adalah orang yang memperkenalkan Arimbi pertama kali pada narkoba. Rajib meminta wartawan tersebut untuk menemui Arimbi, Rajib ingin mengetahui kabar Arimbi dan meminta wartawan tersebut untuk menolong Arimbi. Sebagai wujud terima kasih pada Rajib yang sudah bersedia diwawancara olehnya untuk pembuatan artikel tentang sindikat narkoba, wartawan tersebut mau memenuhi permintaan Rajib untuk menemui Arimbi.

Sudut pandang kemudian berubah. Cerita mengalir seperti kita sedang mendengarkan Arimbi bercerita tentang kehidupannya, tentang masa kecilnya, tentang orang tuanya yang gagal menjadi orang tua, tentang pertemuannya pertama kali dengan narkoba, tentang kehidupan masa remajanya yang mulai berubah, tentang pertemuannya pertama kali dengan narkoba, tentang Arimbi yang harus keluar masuk panti dan tentang cintanya pada seorang gadis bernama Vela.

Kalau boleh saya sebut siapa musuh terbesar dalam hidup saya, dia adalah diri saya sendiri. Dia yang tak pernah saya kenali. Dia yang tak pernah saya mengerti. Dia yang tak pernah bisa berkompromi. Dia yang bahkan sulit saya usir dari tubuh saya sendiri.

Apakah manusia dilahirkan untuk mengulang sesuatu yang tidak dia suka? Kalau begitu untuk apa ada keinginan.

Karena setiap hari selalu ada orang yang lapar. Setiap hari selalu ada orang depresi.

Ini adalah novel Alberthiene Endah pertama yang saya baca dan saya amat sangat menyukai gaya bercerita penulis di novel ini. Atas riset yang dilakukan penulis pada mantan pecandu ditambah dengan informasi yang penulis gali dari dokter di panti, novel ini lahir dengan nyawa yang begitu kuat. Membacanya berhasil membawa hati dan pikiran saya masuk, menyatu ke dalam cerita. Novel ini berhasil bikin saya tercengang, sedih, marah, kecewa, miris, nano-nano, campur aduk. Ditambah latar yang diceritakan dengan sangat apik oleh penulis, semakin membuat jelas bayangan-bayangan di kepala saya ketika membaca. Pokoknya sukaaaaaaaaaaaaaaaa sama tulisan Alberthiene Endah yang satu ini.

Telah saya gantung ketakutan itu. Pada langit kelabu dan bintang jingga. Pada awan merah dadu dan hujan tembaga. Dunia sudah berubah warna. Maka, saya harus menemukan warna yang telah saya yakini. Akan saya kejar dunia saya yang telah hilang. Dunia yang ada di tengah reruntuhan. Dunia yang meneduhkan.

Cerita Arimbi si gadis malang yang labil namun keberaniannya tak terkalahkan ini diakhiri dengan penutup yang kembali disampaikan oleh wartawan. Suka pake banget sama endingnya.

Banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari buku ini. Perspektif kita tentang narkoba dan pecandu narkoba bisa berubah. Banyak pelajaran psikologis yang bisa diambil. Benar-benar mencerahkan. Highly recommended buat dibaca remaja dan orangtua. Serius!

Tapi apakah panti rehabilitasi mewah yang saya inapi dulu juga baik? Saya tak mau banyak bicara. Sebab bagi saya pembentukan manusia baru seperti robot dengan doktrin seragam yang ditanamkan pada setiap orang di situ tak ubahnya suntikan antikolera yang diberikan kepada banyak orang dengan penyakit berbeda-beda. Mengapa manusia-manusia bertata krama di luar sana bisa begitu yakin bahwa penyadaran mantan pecandu narkoba adalah melulu pada masalah akhlak? Saya harus mengatakan bahwa saya korban dari orang-orang yang tak mengerti akhlak. Mengapa orang-orang bertata krama di luar sana hanya mendirikan panti bagi pecandu narkoba, dan tidak mendirikan panti bagi penyebab pecandu narkoba?

“Semua manusia akan mengalami siklus hidup seperti ini. Kadang penuh harap, kadang bahagia, kadang tertawa, kadang dicampakkan, kadang dibuat marah, kadang emosional, kadang temperamental….”

Apakah hidup memang berisi sekumpulan duri atau pedang bermata seribu yang meluluhlantakkan jiwa manusia? Apakah memang harus seperti ini untuk bisa mengatakan bahwa saya seseorang yang hidup?

Ahhhh….. rasanya saya jadi mau berburu buku Alberthiene Endah yang lain. Baca-baca di goodreads, sekarang AE banyak nulis novel metropop yaaa? Kudu coba baca.

Sekali lagi, NARKOBA NO WAY !

NB : Novel ini sudah diangkat ke layar lebar dengan judul Detik Terakhir dan saya belum pernah nonton 😀

Advertisements

One thought on “Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s