Novel The Architecture of Love – Ika Natassa

img20161004172704

Judul buku: The Architecture of Love

Penulis: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Desain sampul: Ika Natassa

Ilustrasi isi: Ika Natassa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-2926-0

Terbit: Juni 2016

Tebal: 304 halaman

Rating: 4/5


Blurb

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita. Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York “kantor”-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.

Sinopsis

Raia, seorang penulis terkenal, penulis buku-buku best seller Indonesia “melarikan diri” ke New York demi menghilangkan writer’s block yang sedang dialaminya paska kasus perceraian dengan suaminya yang membuatnya kehilangan muse dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menemukan kembali muse-nya dan bisa kembali menjawab pertanyaan dari para fans-nya yang setia menanyakan dan menunggu kapan “anak” terbarunya akan lahir.

Raia tak sengaja bertemu dengan River, seorang arsitek yang sama-sama sedang “melarikan diri” dari Indonesia dan berusaha mencari kedamaian di New York, berusaha untuk berdamai dengan masa lalu. Pertemuan pertama mereka di pesta tahun baru saat itu membawa mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat mereka menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama, mencari inspirasi bersama-sama di kota New York.

Cerita-cerita River tentang bangunan di kota New York banyak memberi Raia inspirasi. Hampir setiap hari Raia melewatkan harinya dengan River menyusuri kota New York ditemani obrolan-obrolan hangat mereka yang akhirnya perlahan membawa kesenangan bagi Raia dan River yang sama-sama sedang “melarikan diri” di kota yang tak pernah tidur itu.

Review

Saya adalah salah satu pembaca setia #PollStory yang diadakan Ika Natassa dan Twitter Indonesia di awal tahun 2016 lalu. Cerita TAoL di #PollStory tamat pada Valentine, 14 Februari 2016 dengan ending yang masih gantung. Senang rasanya ketika saya dengar kalau cerita TAoL di #PollStory ini bakal diterbitkan dalam sebuah novel. Dan jreeeeeeeenggggggggg 10 Juni 2016 lahirlah Novel ini yang di launching di acara super ketje Makassar Indonesian Writers Festival. *Engga ikut launching sih… Engga ikut PO juga… Hahaha… Alhamdulillah rezeki anak sholehah, dapet ini buku di toko buku bekas dengan harga diskon dan masih dalam keadaan 90% bagus tentunya, minus pembatasnya aja yang ga ada. Yang penting isinya utuh! #ILoveDiscount wkwk*

Seperti kebanyakan novel Ika Natassa sebelumnya, novel ini pun berhasil membuat saya baper. Di awal cerita sudah banyak kata-kata yang pengen banget saya garis bawahin dan stabiloin lalu kemudian tempelin post-it diujung buku. Kak Ika emang jago banget ngolah kata yang cocok buat jadi quote (lalu kemudian dijadiin caption di Instagram hahaha).

Dia menulis karena dia cinta menulis dan dia menulis kisah karena ada yang ingin dia ceritakan, bukan karena ingin mencari popularitas atau award atau mengejar pujian.

Calendar does not decide when you are going to change your life for the better. You do.

Maybe that’s how she knows how much she loves writing. But even the things that we love can make us feel miserable sometimes, right?

Karena novel ini adalah lanjutan dari #PollStory, hampir sebagian dari novel ini adalah cerita yang sudah dituliskan di #PollStory dan sebagiannya lagi adalah lanjutannya. Ceritanya sendiri sederhana, tentang dua orang yang “melarikan diri” ke New York, berusaha untuk berdamai dengan masa lalu mencari ketenangan di tengah keramaian di New York yang tidak pernah tidur. Dua orang yang sedang sama-sama menata kembali masa depannya dan berusaha untuk mencari kebahagiaan mereka kembali.

Dari semua persinggahannya di New York itu, ada satu hal yang makin meyakinkannya bahwa kota ini adalah tujuan yang tepat untuk tempat “pelarian”: kota ini tidak pernah sepi, apalagi mati.

…hidup itu untuk dijalani dan dinikmati, bukan dipikirkan.

Di novel ini New York menjadi bagian yang sangat penting. New York tidak hanya menjadi latar dari novel ini, tapi juga menjadi tokoh pelengkap cerita Raia dan River. Tiap tempat di New York diceritakan penulis dengan sangat detail dan semakin jelas dengan adanya sketsa bangunan-bangunan yang ada dalam cerita yang diselipkan di beberapa halaman di novel ini. Dan salutnya lagi, semua sketsa itu dibuat sendiri oleh penulis. *uhhh tambah kagum sama Kak Ika yang ga cuma jago nulis, tapi jago gambar juga 🙂 *. Penulis berhasil membawa saya (ingin) jalan-jalan ke New York dan yang paling saya suka adalah ketika penulis menceritakan tentang toko buku di New York yang unik-unik. *ahh pengen kesanaaaaaaa*

Tak hanya soal New York yang diceritakan dengan jelas oleh penulis, penulis juga selalu memperbanyak informasi pembaca soal profesi seseorang dengan sangat jelas. Di novel-novel terdahulu saya banyak tahu soal banker dan di novel TAoL ini saya jadi banyak tahu soal profesi seorang penulis dan arsitek. Senengnya buat saya adalah karena jadi nambah-nambah pengetahuan saya.

Writing is one of the loneliest professions in the world. Ketika sedang menulis, hanya ada sang penulis dengan kertas atau mesin tik atau laptop di depannya, hubungan yang tidak pernah menerima orang ketiga.

Salah satu kutukan penulis: terkadang memberi makna berlebihan pada kalimat yang seharusnya berarti sederhana, apa adanya.

Architecture is sort of a combination of love, mind, and reason. Merancang bangunan itu nggak sekadar urusan teknis, nggak sekadar bikin bangunan yang aman dan nyaman, tapi juga mengakomodasi sentimental values pemiliknya.

Dan masih ada lagi informasi yang lain yang banyak disajikan oleh penulis, banyak narasi panjang yang dihadirkan oleh penulis. Salut buat Kak Ika yang sudah menghadirkan banyak fakta dan informasi yang baru saya tahu. Namun untuk bagian narasi panjang ini, semisal narasi soal burger dan pop corn, saya rasa ada beberapa yang kepanjangan dan lebih baik ditiadakan karena terkesan narasi ini ada hanya untuk menambah tebal halaman buku. *huhu maafkan aku Kak Ika…*

Senangnya lagi dari novel ini adalah munculnya Risjad Family karena Raia masih bagian dari keluarga Risjad. Seneng karena ketemu lagi sama Harris Risjad walaupun hanya jadi cameo dan muncul bentar aja. Uuuhhhhh cowok impian itu akhirnya berlabuh ke pelaminan… bukan sama saya… Of course sama Keara !!! Haha *book boyfriend syndrome**eh maaf spoiler…*

“Tahu masalah utama perempuan? Bukan berat badan, bukan makeup, bukan jerawat, fuck any of those shit, semua ada obatnya. Tapi tahu yang nggak ada obatnya? Semua perempuan selalu jadi gampangan di depan laki-laki yang sudah terlanjur dia sayang. Bukan gampangan dalam hal seks ya maksud gue, tapi jadi gampang memaafkan, gampang menerima, gampang menerima ajakan, bahkan kadang jadi gampang percaya.”

Laughing is always liberating. And laughing with someone is always healing, somehow.

Tapi Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dan memisahkan, menjauhkan dan mendekatkan, yang tidak pernah bisa kita duga-duga.

Somethings in life are not meant to be measured, but just to be experiences, right?

Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir.

Novel ini dibawakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi dibeberapa bagian ada yang menggunakan sudut pandang orang pertama baik itu di part Raia dan di part River. Namun perubahan sudut pandang ini tidak mengurangi asyiknya novel ini, malah memperjelas konflik yang sedang dialami oleh Raia dan River yang dari awal sempat bikin super penasaran sama apa yang terjadi. Terutama konflik yang dialami oleh River yang bikin saya mau cepet-cepet buka halaman selanjutnya buat tahu apa yang dia alami dan apa yang dia rasakan sebenernya.

Berdamai dengan masa lalu menjadi topik utama dalam novel ini. Dan Kak Ika selalu berhasil membuat masalah yang kelihatannya sepele menjadi cerita yang menyenangkan dan layak untuk dibaca. Selalu, novel Kak Ika tuh bikin nagih buat buka halaman selanjutnya.

Tapi entah kenapa saya merasa novel ini sepertinya masih butuh halaman yang lebih tebal untuk menambah cerita. Penyelesaian konfliknya kurang asyik. Ketika sampai di ending cerita, saya cuma bisa bilang, “gini doang ini teh ending-nya?”. Rasanya saya masih haus akan cerita-cerita manis Raia dan River sebelum akhirnya cerita selesai. Rasanya Raia dan River masih kurang cukup menghabiskan waktu bersama di New York, rasanya masih harus ada cerita sebelum akhirnya, ahh sudahlah… Ending-nya jadi terkesan buru-buru. Mungkin ini karena penulis menyelesaikan buku ini dalam waktu singkat tidak seperti buku Antologi Rasa yang menghabiskan waktu sampai tiga tahun sampai akhirnya rampung dan pecah telor. Dan Yap… dari semua novel Ika Natassa, still … Antologi Rasa is the best.

Walaupun begitu, saya akan selalu menantikan karya Ika Natassa. Karena buku-buku Ika Natassa itu kebanyakan nagih, bikin baper, bikin delusional parah, hyper-romanticism dan bisa bikin unexplainable peace of mind, dan pastinya “a must have” banget. Tidak pernah ada yang mengecewakan dan selalu menyenangkan membaca novel-novel Ika Natassa. Dan layaknya fans Raia Risjad, saya tunggu karya Ika Natassa selanjutnya  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s