Up&Up dan On the Spot

Beberapa hari ini saya jadi sering dengerin lagunya Coldplay. Gara-garanya karena lagu Yellow di film Boyhood itu membuat saya ingin mendengarkannya kembali dan berasa jadi nostalgia aja dengernya. Adem.

Buka youtube, jadi suka juga denger lagu Hymn For the Weekend. Dan enakeun. Asik! Kemudian lanjut jadi denger lagu-lagu Coldplay yang lain, kebanyakan lagu-lagu Coldplay yang lama.

Nah… Baru tadi saya Youtube-an lagi, saya putuskan buat nonton video full Up&Up yang belum pernah saya tonton. Padahal orang-orang udah banyak posting foto ala-ala Up&Up di Instagram sejak dulu kala tapi entah kenapa saya kurang kepo sama videonya  😀

hipwee-6-2
Foto ala Up&Up yang lagi hits banget
hipwee-21
Sumber : Hipwee via Instagram

Beres nonton videonya dannnnnn waaaaaaaawwwwwwwwwww gila! Amazed! Kereeeeeeeeeeennnnnn! Canggih! Niat! Sukaaaaaaaaa… Langsung deh share ini video ke Abang nun jauh disana. Hahaha.
*Abang satu ini ga suka Coldplay, beda aliran. Share video cuma buat nunjukin gambar videonya bukan musiknya 😀

Dan kemudian,

A : Gila.

O : Gila apa?

A : Tipuan kamera sama editannya edan.

O : *thumbs up*

A : Makin ga percaya nonton berita di On the Spot *lempeng*

O : Nghahahahahahaha

A : Wkwkwkwkwkwkwk

Sekian kegajean malam ini.

Selamat beristirahat.

🙂

Advertisements

Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah

wp_20161020_21_13_52_pro

Judul buku: Detik Terakhir

Judul lama: Jangan Beri Aku Narkoba

Penulis: Alberthiene Endah

Editor: Ikeu dan Donna

Desain sampul: eMTe

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2214-6

Terbit: April 2004

Tebal: 248 halaman

Penghargaan: Penghargaan Adikarya IKAPI (2007)

Rating: 4/5


Blurb & Sinopsis

“Narkoba telah menghancurkanmu….”

“Bukan. Bukan dia. Dia Cuma bubuk putih yang tahu bagaimana untuk bersiasat memberi penyelamatan dalam dunia yang begini kurang ajar.”

“Kamu menjadi rusak. Kamu menjadi celaka. Kamu menjadi lesbian. Semua karena narkoba.”

“Saya korban orang tua yang rusak. Saya korban akhlak mereka yang celaka. Tapi saya menjadi lesbian karena cinta itu memang ada. Hanya itu yang saya punya.”

“Kamu kalap. Kamu harus masuk panti.”

“Kenapa kalian hanya memikirkan saya dan narkoba? Kenapa kalian tidak pernah berpikir untuk membuat panti bagi orang-orang yang membuat saya celaka. Orang tua.”

Arimbi korban yang tak terelakkan dari kehidupan rumah tangga kaum jetset yang bobrok. Seperti kebanyakan remaja frustasi, ia dengan mudah mengenal narkoba dan dalam waktu singkat bersetubuh dengan bubuk melenakan itu. Kisah ini bercerita tentang proses psikologis seorang gadis muda melawan (atau melindungi dirinya dari) kehidupan yang sangat dia benci. Bagaimana ia berjuang mendapatkan kemenangan yang ia yakini dengan mencintai sesama perempuan. Bagaimana ia bergulat dalam proses pengenalan dirinya di tengah situasi yang bagi orang kebanyakan adalah proses tak sadar karena dipengaruhi narkoba.

Tapi Arimbi bukan korban klise dari jerat narkoba yang bisa diselesaikan dengan tindakan instan masa kini: detoksifikasi dan panti rehabilitasi. Ia, dengan sisa-sisa kesadaran dan rasa cintanya yang besar pada kekasihnya, Vela, berusaha melepaskan diri dari kehidupan yang ia benci sekaligus narkoba dengan suara hati yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar. Ironisnya, apa yang ia perjuangkan dipandang orang lain sebagai salah satu dampak buruk narkoba.

Kisah Arimbi merupakan gambaran kegagalan orangtua masa kini (dan institusi pemberantasan narkoba) dalam menyelesaikan kasus-kasus narkoba. Ada begitu banyak mantan pecandu yang masih bergulat dengan persoalan-persoalan yang belum selesai.

Review

Novel ini pertama kali terbit 12 tahun yang lalu dengan judul “Jangan Beri Aku Narkoba”. Kemudian terbit lagi dengan judul yang berganti menjadi “Detik Terakhir” di tahun 2006. 10 tahun kemudian saya baru berkesempatan membaca buku ini. Lagi pula di tahun 2004 atau 2006 saya belum cukup umur untuk membaca novel ini. He he hehe.

Saya temukan buku ini ketika berburu buku diskon di Toko Buku Toga Mas Buah Batu. Harganya Rp. 15.000 saja. Namun membacanya memberikan ilmu dan pengetahuan yang tak ternilai harganya. Continue reading “Novel Detik Terakhir – Alberthiene Endah”

Novel The Architecture of Love – Ika Natassa

img20161004172704

Judul buku: The Architecture of Love

Penulis: Ika Natassa

Editor: Rosi L. Simamora

Desain sampul: Ika Natassa

Ilustrasi isi: Ika Natassa

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-2926-0

Terbit: Juni 2016

Tebal: 304 halaman

Rating: 4/5


Blurb

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita. Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York “kantor”-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.

Sinopsis

Raia, seorang penulis terkenal, penulis buku-buku best seller Indonesia “melarikan diri” ke New York demi menghilangkan writer’s block yang sedang dialaminya paska kasus perceraian dengan suaminya yang membuatnya kehilangan muse dalam hidupnya. Ia berusaha untuk menemukan kembali muse-nya dan bisa kembali menjawab pertanyaan dari para fans-nya yang setia menanyakan dan menunggu kapan “anak” terbarunya akan lahir.

Raia tak sengaja bertemu dengan River, seorang arsitek yang sama-sama sedang “melarikan diri” dari Indonesia dan berusaha mencari kedamaian di New York, berusaha untuk berdamai dengan masa lalu. Pertemuan pertama mereka di pesta tahun baru saat itu membawa mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat mereka menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama, mencari inspirasi bersama-sama di kota New York.

Cerita-cerita River tentang bangunan di kota New York banyak memberi Raia inspirasi. Hampir setiap hari Raia melewatkan harinya dengan River menyusuri kota New York ditemani obrolan-obrolan hangat mereka yang akhirnya perlahan membawa kesenangan bagi Raia dan River yang sama-sama sedang “melarikan diri” di kota yang tak pernah tidur itu.

Review

Saya adalah salah satu pembaca setia #PollStory yang diadakan Ika Natassa dan Twitter Indonesia di awal tahun 2016 lalu. Cerita TAoL di #PollStory tamat pada Valentine, 14 Februari 2016 dengan ending yang masih gantung. Senang rasanya ketika saya dengar kalau cerita TAoL di #PollStory ini bakal diterbitkan dalam sebuah novel. Dan jreeeeeeeenggggggggg 10 Juni 2016 lahirlah Novel ini yang di launching di acara super ketje Makassar Indonesian Writers Festival. *Engga ikut launching sih… Engga ikut PO juga… Hahaha… Alhamdulillah rezeki anak sholehah, dapet ini buku di toko buku bekas dengan harga diskon dan masih dalam keadaan 90% bagus tentunya, minus pembatasnya aja yang ga ada. Yang penting isinya utuh! #ILoveDiscount wkwk*

Seperti kebanyakan novel Ika Natassa sebelumnya, novel ini pun berhasil membuat saya baper. Di awal cerita sudah banyak kata-kata yang pengen banget saya garis bawahin dan stabiloin lalu kemudian tempelin post-it diujung buku. Kak Ika emang jago banget ngolah kata yang cocok buat jadi quote (lalu kemudian dijadiin caption di Instagram hahaha). Continue reading “Novel The Architecture of Love – Ika Natassa”