Novel Test Pack – Ninit Yunita

IMG20171210130307.jpg

Judul buku: Test Pack

Penulis: Ninit Yunita

Editor: FX Rudy Gunawan

Desain sampul: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagas Media

ISBN: 979-3600-96-9

Terbit: Cetakan Pertama-November 2005, Cetak Ulang Cover Baru-2010

Tebal: 202 halaman

Rating: 4/5


Berawal dari sering membaca blog suaminya Ninit Yunita yang juga penulis yaitu Adhitya Mulya, saya jadi penasaran juga sama buku-buku karya Ninit Yunita. Lucky Me! Saya mendapatkan buku ini di pameran buku yang ada di Toko Buku Toga Mas Buah Batu. Alhamdulillah juga dapet diskon besar 😀 (Kalau ada diantara pembaca yang punya info buku-buku diskon, pameran / bazaar buku dan sebagainya please… kasih tahu saya :D)

Ada sebuah kalimat menantang, testimoni dari Hagi Hagomoro di cover buku yang membuat saya jadi semakin penasaran,

“Jangan kawin dulu sebelum baca buku ini.”

Dan apa yang teman-teman pikirkan saat melihat novel dengan judul Test Pack? Jujur dulu saya berpikir kalau novel ini bercerita tentang pergaulan bebas remaja dan sebagainya. Tapi ternyata saya salah besar. Salah banget. *Ya Allah otak gue kotor banget -____- hahaha*

Novel ini bercerita tentang pasangan suami istri Rahmat dan Tata. Rahmat adalah seorang psikolog yang menjadi tempat konsultasi bagi pasangan suami istri yang bermasalah dan Tata adalah seorang pengacara yang sering membantu proses perceraian suami istri. Lucunya adalah, di dalam novel ini, mereka menangani klien yang sama. Di satu sisi Rahmat berusaha untuk mendamaikan kliennya. Di sisi lain pasangan tersebut meminta Tata agar proses perceraiannya dipercepat.

Kehidupan rumah tangga Rahmat dan Tata berjalan seperti layaknya keluarga yang bahagia. Hanya saja kebahagiaan itu terasa kurang tanpa adanya kehadiran seorang anak. Segala usaha Rahmat dan Tata lakukan demi mendapatkan buah hati mereka. Tata yang seorang perempuan menjadi sangat cemas ketika usaha mereka tidak juga membuahkan hasil.

Tata mempunyai kebiasaan yang selalu ia jalani layaknya seorang calon ibu. Kerinduannya akan seorang anak membuat Tata rajin pergi ke toko perlengkapan bayi dan membeli beberapa baju bayi, menonton film-film tentang kehamilan, mendengarkan lagu klasik dan sebagainya. Namun ada satu kebiasaan Tata yang sangat unik, Tata mempunyai banyak koleksi test pack. Test Pack menjadi barang yang wajib Tata miliki selama 7 tahun ini. Ia rajin mengamati test pack dan berharap suatu hari nanti test pack ini bisa memberikan tanda positif kalau Tata hamil. Namun dari sekian kali Tata mengamati hasil test pack, hasilnya tak kunjung memberikan tanda positif kalau Tata hamil dan hanya membuat Tata semakin cemas.

Rahmat menyadari kalau istrinya sangat cemas karena tak kunjung hamil. Rahmat juga cemas. Namun Rahmat berusaha untuk tetap tenang , tegar dan berusaha mengimbangi Tata. Sikap Rahmat yang selalu terlihat santai terkadang membuat Tata berpikir kalau keinginan Rahmat untuk mempunyai anak tidak sebesar keinginan Tata. Rahmat dan Tata sama-sama dilanda kegalauan namun mereka enggan untuk memerikasakan diri mereka ke dokter. Sampai akhirnya rasa penasaran itu memuncak dan mereka memberanikan diri untuk memeriksakan diri mereka masing-masing.

Hasil pemeriksaan dokter tenyata menjawab semua ketakutan Rahmat dan Tata selama ini. Tata menjalani test pertama dan dinyatakan mempunyai kesempatan untuk mempunyai anak. Namun kebahagiaan Tata tidak berlangsung lama. Kebahagiaannya hancur ketika Tata tahu bahwa ternyata suaminya Rahmat dinyatakan infertil.

Masalah anak merupakan hal yang sangat sensitif bagi orang yang sudah berumah tangga. Begitu juga dengan Rahmat dan Tata. Kehidupan rumah tangga Rahmat dan Tata mulai berubah sejak saat itu. Bahtera rumah tangga mereka semakin berada diujung tanduk tatkala masalah lain juga ikut-ikutan menghujam rumah tangga mereka.

Disitulah kekuatan cinta Rahmat dan Tata diuji. Apakah Tata bisa menerima Rahmat yang infertil? Apakah pernikahan mereka akan berujung pada perceraian seperti klien-kliennya?

Novel ini dibawakan dari dua sudut pandang, Rahmat dan Tata. Meski dibawakan dari dua sudut pandang yang berbeda, cerita yang disampaikan tetap mengalir dengan santai dan asyik. Tidak hanya tentang hal-hal romantis yang diceritakan disini. Cerita-cerita kocak pun banyak disajikan di novel ini. Cerita di novel ini dibawakan dengan Bahasa Indonesia, namun tidak jarang juga ada percakapan dan cerita dengan Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Meski begitu semuanya tetap dalam porsi yang pas dan menambah kelucuan dan keromantisan yang ada di novel ini.

Cerita yang ada dalam novel ini ringan dan mudah diikuti pembaca. Bahkan mungkin novel ini cocok buat  jadi bacaan pertama pembaca novel pemula. Namun tetap tidak ada yang sempurna, dan kekurangan selalu ada. Yang kurang dari novel ini adalah penyelesaian konfliknya yang menurut saya terlalu cepat. Saya berharap lebih dari novel ini. Berharap halamannya lebih tebal dan berharap ceritanya tidak selesai secepat itu.

Setelah membaca novel ini, saya mengerti kenapa ada kalimat menantang itu terpampang di cover bagian depan. Novel ini mengajarkan tentang betapa pentingnya komitmen dalam sebuah pernikahan.

“Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?

That’s why you need commitment.

Don’t love someone because of what/how/who they are.

From now on, start loving someone, because you want to.

PS : “Don’t Judge a Book By It’s Cover” itu BENER BANGET!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s