Cerita Tentang Musik

Satu dari seribu hal yang paling saya sukai dari hidup adalah musik.

Siapa yang tak suka mendengarkan musik? Everyone loves music. Hanya mungkin genre musik yang didengarkan saja yang berbeda-beda. But, “music is passion free from reason” (Ika Natassa – Underground).

I can’t imagine how my life would be without music. Everyday I always listen to music and there are almost 500 musics in my pocket. Music always be my best friend in every conditions. When I am happy, I am sad, lonely, worried, in a good day even in a bad day, in the rainy day or the sunny day, in the morning until the night, in the dark also in the light, in my home, in my work place, in the bus bahkan di angkot sekalipun. Music is must always be there everytime and everywhere I need it. So, itulah mengapa ketinggalan headset di kala bepergian itu bagai kiamat kecil. Halahhhhhhhh …….

Hidup saya ga jauh dari musik sedari kecil. Bapak adalah seorang pencinta musik. Bapak senang mendengarkan musik berbagai genre. Mulai metal sampai dangdut Bapak suka semuanya. Mulai dari Led Zeppelin sampai Rhoma Irama Bapak suka. Tapi yang paling bapak suka adalah musik rock. Mamah bilang, nama saya juga terinspirasi dari salah satu penyanyi rock Indonesia tahun 80’an, Yosie Lucky namanya. Dan Bapak kasih saya nama Yossi Fitriani. Hahaha

Bapak adalah Fans Berat God Bless. Lagu-lagunya jadi lagu wajib dimanapun Bapak berada. Bahkan sampe dibikin kaosnya, nyablon sendiri dong.

Waktu masih zaman kaset, hal yang sering Bapak lakukan kalo kita jalan-jalan adalah mampir ke toko kaset, beli kaset. Bapak tuh sampai suka ngerakit-rakit speaker sendiri. Tiap kerja (dulu Bapak pernah jadi Tukang Sablon) pasti dengerin musik. Pas zamannya VCD Player, Bapak rajin karokean di rumah sampe beli mic dan pasang speaker di tiap sudut ruang keluarga. Dulu waktu lagi musimnya, hampir tiap hari Bapak karokean bahkan sampai teman-temannya pun karokean di rumah.

Bapak juga orang yang suka manggung. Suka nyanyi dan kadang main keyboard. Kayanya musik emang ga bisa lepas dari hidup Bapak. Bapak juga suka nyanyi lagu-lagu melankolis dan mellow kaya lagu-lagu Broery Marantika sama Dewi Yull. Bapak tuh kayanya hafal dan ngikutin musik banget orangnya. Kebiasaan Bapak sekarang bukan lagi beli kaset atau CD musik. Bapak yang sekarang usianya udah 50 something, udah punya notebook sendiri lengkap dengan modem dan headsetnya yang setia menemani, Bapak hampir tiap malem streaming, dengerin musik-musik zamannya Bapak di teras depan rumah atau di kamar adek saya. Mungkin ini semacam “me-time”-nya Bapak selain berkebun. Canggih ! hahaha

Mamah juga adalah pencinta musik. Dari kecil mamah sudah tak asing dengan musik. Terlahir dari seorang pemain saxophone, pastilah Mamah akrab dengan musik. Namun nasib Mamah sama dengan Saya. Hanya sebagai pendengar saja. Dari kelima anak Kakek, tidak ada satupun yang mengikuti jejaknya sebagai pemain musik. Bahkan sampai sekarang cucunya ada 15, belum ada satupun yang serius terjun untuk main musik. Kakek tidak memaksakan anaknya untuk bisa main musik. Tapi Kakek akan mengajarkan anaknya maen musik kalo ada yang sungguh-sungguh ingin jadi pemain musik, begitu cerita Mamah.

Kakek adalah pemain saxophone yang cukup terkenal di daerahnya. Kakek sering manggung sana-sini bahkan Kakek manggung sampai acara Nasional. Salah satu saxophone Kakek adalah pemberian dari Menteri Kebudayaan Indonesia (Lupa tahun dan nama menterinya). Saxophone peninggalan Kakek kini hanya bisa dilihat, belum ada yang bisa memainkan.

Semoga Kakek bahagia dan tenang selalu disisi-Nya. Aamiin.

Dari kecil saya punya keinginan untuk bisa main alat musik. At least satu alat musik, satu instrumen bisa saya mainkan. Bapak pernah mencoba mengajarkan saya main keyboard jaman SD, tapi gagal. Saya SMP,  pelajaran Seni Musik kala itu adalah belajar main Keyboard. Sayangnya, otak saya ga sanggup mengkontrol jari-jari saya buat main keyboard. Saya menyerah.  Saya ga bakat main Keyboard.

Pas zaman saya SMK, Bapak memberi Adek saya gitar. Waktu itu kami sekeluarga jalan-jalan ke Cirebon dan entah kenapa tiba-tiba Si Nde minta dibeliin gitar. Pergilah kami ke toko alat musik, pilih-pilih dan akhirnya dapet gitar Allegro yang kayanya pas dan enakeun sama ukuran badan Adek saya yang waktu itu masih kecil, masih SD (lupa kelas berapa). And you know what? Adek saya malah ga bisa maen gitar sampai sekarang. Dia lebih jago main keyboard. Keyboard komputer! Hahaha Musik adalah temannya ketika dia sibuk ber-“asd-asd” main game. Ya, dia adalah passionate gamer!

Saya sempat belajar gitar sedikit-sedikit. Dan baru dipertemukan dengan “guru-guru” gitar pas zaman kuliah. Sampe akhirnya gitar Adek saya bawa ke Bandung buat belajar gitar dengan mereka. Dan belajar lama sama pacar. Namun apadaya, sampai sekarang hanya bisa main kunci dasar saja, dan ga pernah bisa kunci B -___-. Bisa main beberapa lagu dengan kunci dasar, tapi petikannya ga rapih. Hadeuuuuuhhhhhh. Jari jari ini emang ga mau diajak main alat musik apapun sepertinya. Nasib saya sama dengan Adek saya. Saya jago main keyboard. KEYBOARD KOMPUTER, OF COURSE! Hahaha. Musik adalah pendamping saya di kala “ngoding” zaman kuliah dan di kala input data ketika kerja dan ketika saya menulis tulisan ini.

Musik adalah teman selamanya. Kehadirannya tak bisa saya jauhkan dari kehidupan saya. Saya selalu senang mendengar musik dari zaman kapanpun dengan genre apa saja selama itu enak didengar. Kapan-kapan saya cerita soal musik lebih banyak lagi. Maafkan post kali ini kurang rapih dan random sekali. -___-

“Music helps me escape from reality I live in”

 

—S E K I A N—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s